Jakarta (ANTARA) - Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) Ngatawi Al-Zastrouw menyampaikan bahwa peringatan Hari anak Nasional (HAN) menjadi momentum refleksi untuk memberikan ruang untuk anak-anak berekspresi, berkreasi dan tumbuh secara optimal.

"Peringatan Hari Anak bukan hanya seremonial, tetapi menjadi momentum refleksi untuk memberikan ruang untuk anak-anak berekspresi, berkreasi, dan tumbuh secara optimal," kata Ngatawi Al-Zastrouw dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Hal itu dikatakannya dalam kegiatan seni, budaya, dan edukasi dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Makara Art Center, Universitas Indonesia (UI).

Mengutip Ki Hajar Dewantoro, Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan pendidikan adalah proses pembudayaan dan cara paling efektif dalam belajar.

"Pendidikan sejatinya adalah proses pembudayaan. Seni dan budaya menjadi cara paling efektif untuk membentuk karakter manusia. Anak-anak harus berkebudayaan dan mereka mempunyai hak untuk bermain, karena melalui bermain mereka belajar, mengembangkan kreativitas, memahami cara hidup yang sehat dan mempertajam kepekaan rasa," kata dia.

Pihaknya berharap seni budaya menjadi bagian proses tumbuh kembang anak Indonesia.

Sementara itu, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan mengajak semua pihak agar bijak menggunakan teknologi, menciptakan ruang aman dan suasana positif dalam lingkungan anak.

"Anak-anak harus berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk tindakan maupun percakapan yang melanggar batas privasi mereka. Dukungan pemerintah daerah sangat penting dalam menghadirkan ruang aman, karena lingkungan yang positif sangat menentukan proses tumbuh kembang mental serta kebahagiaan anak," kata Veronica Tan.

Peringatan HAN di UI terselenggara berkat kerja sama Direktorat Kebudayaan UI dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.



Pewarta: Anita Permata Dewi
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026