"Jadi, hingga bisa seperti sekarang ini, butuh perjuangan dalam membangunnya, yang dulu diawali dari pertunjukan sirkus," katanya pada Pesantren Kilat Ramadhan Ramadhan 1434-H bertema kewirausahaan yang digagas kolaboratif antara media massa, Serikat Pekerja Antara (SPA), Yayasan At-Tawassuth Bogor, yang didukung sejumlah mitra.
Mitra tersebut adalah Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara pada Pusat Regional Asia Tenggara untuk Biologi Tropika (SEAMEO-BIOTROP), IM2-Indosat, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, PT Biofarma, PT APRIL Management Indonesia/RAPP, PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk), PT Jamsostek, PT Chevron Geothermal Salak, PT Kimia Farma, PT Pupuk Kaltim, dan PT Antam.
Mewakili Direktur TSI Tony Sumampau dalam forum Sanlat tersebut, ia mengatakan bahwa membangun bisnis atau berwirausaha memang membutuhkan usaha yang ulet dan tidak kenal menyerah, seperti halnya yang dilakukan para pendiri dan manajemen di TSI Cisarua, yang kini berkembang juga di TSI II Prigen, Jawa Timur dan juga di Bali Safari Marine Park.
Mengenai bagaimana TSI menumbuhkan semangat kewirausahaan pada masyarakat sekitar, ia menjelaskan bahwa selama ini sudah cukup banyak yang dilakukan, seperti menumbuhkan warga petani untuk menanam rumput gajah, buah-buahan dan sayuran.
"Semua hasil pertanian petani itu kemudian ditampung dan dibeli untuk kebutuhan pakan satwa-satwa yang ada di TSI," katanya.
Ia memberi contoh di sepanjang jalan menuju TSI Cisarua, di mana terdapat penjual sayuran jenis wortel, jika tidak terjual maka akan dibeli TSI semua untuk kebutuhan pakan satwa.
TSI juga membuka peluang wirausaha lain bagi masyarakat, seperti memasok tikus putih, ayam dan lainnya bagi kebutuhan pakan satwa karnivora (pemakan daging).
Direktur SEAMEO-BIOTROP Dr Bambang Purwantara, DVM, MSc menyatakan pihaknya memberikan dukungan penuh pada kegiatan Sanlat Ramadhan mengenai kewirausahaan itu.
"Kami mendukungan Sanlat Ramadhan dengan tema kewirausahaan itu karena selama ini kami juga bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat melalui hasil riset-riset aplikatif kami," katanya.
Ia menjelaskan bahwa selama ini organisasi tersebut telah memberikan banyak pelatihan kewirausahaan, di antaranya pertanian organik, perikanan, seperti budi daya ikan gabus, nila, gurame, lele dengan kolam terpal (knock down), jamur tiram, kuping, dan lainnya.
Menurut dia, tidak hanya memberikan pelatihan kewirausahaan, namun organisasi itu juga memberikan pendampingan bagi yang akan melanjutkan lebih serius untuk terjun dalam bidang wirausaha juga bisa difasilitasi untuk pendampingan.
Ketua Panitia Sanlat Ramadhan Rahmad Nasution menjelaskan bahwa tema kewirausahaan dipilih dengan pertimbangan bahwa pada masyarakat Indonesia ukuran kesuksesan hidup hingga saat ini masih belum bisa keluar dari pandangan menjadi pegawai di kantor pemerintah, baik sipil maupun non-sipil.
"Alhasil, hanya menjadi pegawai negeri seperti itulah yang kemudian menjadi ukuran. Akibatnya, dampak yang sering ditemui adalah menghalalkan segala cara untuk meraihnya meski fakta kerasnya peluang menjadi pegawai terbatas," kata Ketua SPA itu.
Menurut dia, jumlah wirausaha Indonesia masih kurang dari dua persen (total jumlah penduduk), dan kondisi itu tentu sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan negara maju lainnya, seperti
Amerika Serikat yang memiliki jumlah wirausahaa mencapai 11,5 persen dari total angkatan kerja, dan di Singapura jumlah wirausahawannya mencapai tujuh persen, dan Malaysia yang mempunyai lima persen
wirausahawan dari total populasi penduduk negara tersebut.
Pada hari kedua Sanlat pada Minggu (14/7), narasumber yang dihadirkan adalah Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat dengan tema "Bersama TKI Membangun Negeri", Direktur Recognition and Mentoring Program (RAMP) IPB Dr Aji Hermawan dengan tema "Membangun Wirausaha Muda: Pengalaman IPB".
Peserta Sanlat yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, dhuafa dan anak yatim juga akan diajak melihat langsung pusat-pusat kewirausahaan berbasis pertanian di Komplek SEAMEO-BIOTROP.
Pewarta: Oleh Andi JauhariEditor : Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.