Jombang (ANTARA) - Deru mesin sesekali terdengar memecah suasana di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjardowo, Kabupaten Jombang. Di antara tumpukan sampah yang setiap hari datang dari berbagai penjuru daerah, sejumlah petugas memilah material yang masih dapat dimanfaatkan kembali.

Bagi sebagian orang, tumpukan sampah mungkin menandai akhir dari siklus sebuah barang. Namun, di Jombang, Jawa Timur, sampah mulai dipandang dari sudut yang berbeda, sebagai sumber energi alternatif yang dapat memberi manfaat baru.

Pemerintah Kabupaten Jombang, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, mengembangkan teknologi refuse derived fuel (RDF), yakni pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat digunakan industri semen menggantikan sebagian penggunaan batu bara.

RDF menjadi salah satu solusi dari pengolahan sampah yang masih menjadi pekerjaan besar untuk Kabupaten Jombang, bahkan di seluruh Indonesia. Sampah diolah menjadi produk yang mempunyai nilai jual ekonomis.

Kepala DLH Kabupaten Jombang Miftahul Ulum menjelaskan teknologi RDF ini memanfaatkan sampah plastik dan berbagai jenis sampah anorganik yang sebelumnya tidak lagi memiliki nilai ekonomi.

Material tersebut berasal dari proses pemilahan yang dilakukan masyarakat, bank sampah, pelapak, hingga Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) se-Kabupaten Jombang.

Dengan program ini, sampah yang sebelumnya hanya berakhir di gunungan TPA, kini memiliki kesempatan kedua untuk menjadi sumber energi bagi sektor industri.

Upaya tersebut bukanlah proses yang singkat. Selama sekitar satu tahun terakhir, DLH Jombang bersama industri semen melakukan serangkaian uji coba guna memastikan kualitas RDF yang dihasilkan memenuhi standar kebutuhan industri.

DLH Pemkab Jombang sudah melakukan uji coba mengolah sampah menjadi RDF yang merupakan bahan bakar alternatif untuk pabrik semen. Hasilnya sudah dicek oleh pabrik semen dan dari sisi kalori hasilnya bagus.

Hasil pengujian menunjukkan prospek yang menjanjikan. Meskipun demikian, perjalanan menuju produksi skala besar masih membutuhkan dukungan sarana dan peralatan tambahan.

DLH Jombang masih memerlukan mesin pencacah, mesin pengering, serta alat pemisah sampah organik dan anorganik agar proses produksi dapat dilakukan secara massal dan berkelanjutan.

Di sisi lain, pengelolaan sampah di Jombang tidak hanya berhenti pada RDF. Sampah organik yang masuk ke TPA Banjardowo juga diolah menjadi kompos untuk memenuhi kebutuhan taman milik pemerintah daerah, sekolah adiwiyata, hingga mendukung program "eco pesantren".

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular, ketika sampah tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Berbagai program pemilahan dan pengolahan sampah yang melibatkan masyarakat juga mulai menunjukkan hasil. DLH Kabupaten Jombang mencatat pengurangan timbulan sampah mencapai sekitar 20 hingga 27 ton per hari.

Angka tersebut memberikan ruang napas bagi TPA Banjardowo yang saat ini menjadi satu-satunya tempat pemrosesan akhir di Kabupaten Jombang.

Pengelolaan lingkungan di TPA pun dilakukan secara ketat. Air lindi diolah melalui instalasi khusus sebelum dialirkan ke lingkungan sekitar, sementara sistem "controlled landfill" diterapkan untuk mengurangi bau dan dampak lingkungan lainnya.

Menurut perhitungan DLH, kapasitas TPA Banjardowo diperkirakan masih mampu menampung sampah hingga delapan tahun mendatang. Namun, usia layanan itu dapat bertambah lebih panjang apabila program pengurangan sampah dan pengembangan RDF berjalan optimal.

Di tengah meningkatnya volume sampah, seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, Jombang sedang mencoba menawarkan cara pandang baru: bahwa sampah tidak selalu menjadi akhir dari sebuah cerita.

Di tangan teknologi dan kesadaran masyarakat, sebagian sampah justru dapat memulai kehidupan keduanya sebagai energi yang menggerakkan industri.

Rombongan pejabat meninjau aktivitas di TPA Banjardowo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Bagi Pemerintah Kabupaten Jombang, hasil yang terlihat hari ini bukanlah proses yang berlangsung dalam waktu singkat. Fasilitas pengolahan sampah mulai dibangun pada 2020 dan mulai beroperasi pada 2022. Berbagai penyempurnaan dilakukan agar sampah yang masuk tidak seluruhnya berakhir menjadi timbunan.

Pemerintah juga harus berpikir keras untuk mengurangi sampah yang menumpak saban harinya. Tumpukan sampah mayoritas dari rumah tangga. Lainnya disumbang sektor bisnis dan sektor lainnya. Saban hari, sekitar 500 ton sampah dihasilkan dari berbagai sektor, termasuk rumah tangga.

Wakil Bupati Jombang M Salmanudin Yazid menyebut sistem pengelolaan sampah yang diterapkan saat ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Program yang sudah dijalankan sangat efektif karena dari 500 ton per hari (produksi sampah di Jombang), sekitar 300 ton sudah bisa terkelola dengan baik.

Pernyataan tersebut bukan sekadar angka. Pengelolaan sekitar 300 ton per hari menunjukkan lebih dari separuh kemampuan fasilitas telah dimanfaatkan untuk mengurangi sampah yang sebelumnya berpotensi menumpuk di tempat pembuangan akhir.

RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan industri semen sebagai pengganti sebagian penggunaan batu bara. Melalui teknologi tersebut, sampah tidak lagi hanya menjadi persoalan yang harus disingkirkan, tetapi juga menjadi bagian dari rantai pasok energi bagi dunia industri.

Konsep itu mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni mengurangi timbunan sampah, sekaligus menekan penggunaan energi fosil.

Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, saat berkunjung ke Jombang, beberapa waktu lalu melihat sistem yang dikembangkan Jombang telah meninggalkan pola lama pengelolaan sampah yang hanya berorientasi pada alur "angkut, timbun, buang".

Pemilahan yang dilakukan sejak sumber, hingga di TPA, menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Pemerintah pusat pun berencana memberikan pendampingan lebih lanjut. Salah satu bentuk dukungan yang dipertimbangkan adalah penambahan teknologi maupun mesin RDF agar kapasitas pengolahan dapat terus ditingkatkan.

Kajian tersebut akan dilakukan secara menyeluruh dengan memperhitungkan aspek teknis maupun ekonomi. Pemerintah ingin memastikan peningkatan kapasitas benar-benar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Semakin banyak daerah mengembangkan RDF, semakin besar pula peluang pendapatan yang dapat diperoleh dari hasil pengolahan sampah. Kondisi itu diharapkan mampu mengurangi ketergantungan operasional terhadap subsidi pemerintah.

Lewat program itu, ekonomi sirkular bergerak. Ini menjadi satu sistem yang menjaga agar sumber daya terus berputar di dalam siklus ekonomi selama mungkin. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, diproses kembali menjadi produk yang bermanfaat, sekaligus memiliki nilai jual.

Model ekonomi sirkular ini bertujuan meminimalkan limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya yang ada.

Di balik mesin-mesin pengolah sampah, terdapat dampak lain yang tak kalah penting, yakni terbukanya lapangan pekerjaan baru. Aktivitas pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan RDF membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah tidak sedikit.

Kementerian Lingkungan Hidup, bahkan menilai, pekerjaan tersebut merupakan bagian dari "green jobs" atau pekerjaan ramah lingkungan karena secara langsung berkontribusi menjaga kelestarian bumi.

Program seperti yang dikembangkan Pemkab Jombang juga membuka peluang bagi para mantan pemulung untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak dalam sistem pengelolaan yang lebih tertata.

Ke depan, peluang pengembangan masih terbuka lebar. Pemerintah juga membuka kemungkinan penerapan konsep aglomerasi, yakni pengelolaan sampah dari beberapa daerah di satu fasilitas apabila secara ekonomi dinilai lebih efisien.

Dengan pendekatan tersebut, fasilitas pengolahan sampah tidak hanya melayani satu wilayah, tetapi juga dapat menjadi pusat pengolahan regional, sehingga investasi teknologi menjadi lebih optimal.

Bagi Kabupaten Jombang, perjalanan membangun sistem pengelolaan sampah masih panjang. Namun, capaian mengelola sampah setiap hari tersebut menjadi bukti bahwa persoalan sampah dapat dihadapi dengan pendekatan yang berbeda.

Sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah konsumsi. Di tangan pengelolaan yang tepat, limbah berubah menjadi energi, membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Dari TPA Banjardowo, Jombang menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang mewah. Kadang, perubahan itu justru berawal dari tumpukan sampah yang selama ini dipandang sebelah mata, lalu diolah menjadi harapan bagi lingkungan yang lebih bersih dan masa depan yang lebih berkelanjutan.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026