Bogor (ANTARA) - Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kesatuan membahas sinergi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), teknologi finansial (fintech), dan bank digital dalam membentuk ekosistem keuangan masa depan melalui seminar internasional di Kota Bogor, Jawa Barat.
Seminar bertajuk "The Rise of Digital Finance: Peran AI, Fintech, dan Bank Digital dalam Membentuk Ekosistem Keuangan Masa Depan" itu diselenggarakan Program Studi Sarjana Terapan Perbankan dan Keuangan Digital Fakultas Vokasi IBI Kesatuan dalam rangkaian TALKMISI International Guest Lecture Batch 6.
Kegiatan menghadirkan Assistant Dean of International Affairs sekaligus dosen Business Administration Department Prince of Songkla University (PSU), Thailand, Arno T. Immelman, MSc, sebagai narasumber. Diskusi dipandu Sekretaris Program Studi Perbankan dan Keuangan Digital IBI Kesatuan Pinto Jaya.
Arno mengatakan transformasi digital telah mengubah cara industri keuangan beroperasi sekaligus kompetensi yang harus dimiliki sumber daya manusia di sektor tersebut.
Menurut dia, generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu memanfaatkan AI secara etis, serta memiliki kepemimpinan yang berorientasi pada inovasi dan kolaborasi.
"Transformasi digital tidak hanya mengubah cara organisasi dan perusahaan beroperasi, tetapi juga kompetensi yang harus dimiliki calon pemimpin dan wirausahawan muda," katanya.
Dalam seminar tersebut, AI disebut berperan penting dalam mendorong personalisasi layanan keuangan melalui analisis perilaku transaksi nasabah secara real time, memperkuat sistem penilaian kredit berbasis data alternatif, hingga meningkatkan kemampuan mendeteksi penipuan, pencucian uang, dan transaksi mencurigakan.
Selain itu, pembahasan juga menyoroti perkembangan teknologi finansial melalui implementasi open banking dan open finance yang memungkinkan integrasi layanan antar-lembaga keuangan menggunakan application programming interface (API), serta tren embedded finance yang menghadirkan layanan keuangan di berbagai platform digital.
Sementara itu, model bisnis bank digital dinilai menawarkan efisiensi melalui operasional tanpa kantor cabang fisik, proses pembukaan rekening secara elektronik (electronic know your customer/e-KYC), dan pengalaman pengguna yang lebih sederhana.
Namun demikian, narasumber menilai industri bank digital masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya akuisisi nasabah, menjaga loyalitas pelanggan, pengelolaan risiko kredit, hingga pemenuhan kebutuhan likuiditas.
Seminar juga menekankan pentingnya penguatan keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta regulasi yang adaptif untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan stabilitas sistem keuangan.
Program Studi Sarjana Terapan Perbankan dan Keuangan Digital Fakultas Vokasi IBI Kesatuan menyatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya internasionalisasi pendidikan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri.
Melalui forum akademik itu, IBI Kesatuan berharap mahasiswa memperoleh wawasan global mengenai perkembangan industri keuangan digital sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja dan ekosistem bisnis berbasis teknologi.
Selain memperkuat kompetensi mahasiswa, seminar internasional tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap Program Studi Perbankan dan Keuangan Digital seiring pesatnya transformasi sektor jasa keuangan.
Pewarta: M Fikri SetiawanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.