Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melantik lima profesor riset baru sebagai bukti kontribusi strategis riset dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.
Kelima profesor tersebut adalah Johnny Walker Situmorang dari Pusat Riset Koperasi, Korporasi dan Ekonomi Kerakyatan, kemudian Hidayat dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, dan Tri Marwati dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan.
Selain itu Umi Muawanah dari Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan, serta Wahyu Pudji Nugraheni dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi.
Kepala BRIN Arif Satria dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Jakarta, Kamis, menekankan profesor riset merupakan teladan (role model) bagi para periset nasional dalam menghadapi tantangan perubahan pada era modern.
"Saya berharap para profesor ini menjadi role model, menjadi teladan dalam rangka untuk merespons perubahan," katanya.
Baca juga: BRIN kukuhkan lima orang pakar berbagai bidang ilmu menjadi profesor riset baru
Arif mengatakan profesor bisa dikategorikan sebagai pemimpin level tiga dan empat. Menurut dia, seorang pemimpin terdiri atas tiga level yakni memimpin diri sendiri pada level satu, memimpin orang lain pada level dua, memimpin perubahan pada level tiga, serta memimpin masa depan pada level empat.
"Jadi level tiga dan level empat tidak semua orang bisa. Tapi dengan gelar akademik yang begitu tinggi dan pengalaman riset yang begitu memadai, maka kemungkinan untuk bisa cepat memimpin perubahan dan bahkan memimpin masa depan. Karena kepemimpinan masa depan itu sangat tergantung pada kemampuan kita untuk berimajinasi dalam masa depan," ujarnya.
Arif Satria menegaskan BRIN telah merumuskan Peta Jalan Riset Nasional untuk memetakan, seperti apa riset yang harus dilakukan oleh negara hingga 2035 mendatang.
Ia mengingatkan para profesor riset untuk dapat terus beradaptasi terhadap perubahan, sebab akan banyak industri yang saat ini masih eksis tapi terancam usang dan punah pada masa datang.
Baca juga: Empat perempuan peneliti di BRIN dikukuhkan jadi profesor riset
"Jangan sampai industrialisasi yang ada di Indonesia adalah industrialisasi yang berbasis pada existing technology. Ini sudah banyak investasi yang kita rasakan, yang kemungkinan besar akan obsolete (usang), karena teknologinya sudah bergeser, bergeser, dan bergeser," ungkap Arif Satria.
Terakhir ia berharap kepada para profesor riset untuk bisa menjadi sumber inspirasi bagi para generasi penerus.
Menurut dia, seseorang yang menjadi sumber inspirasi harus mampu menggerakkan orang lain untuk berpikir, untuk bertindak, yang semua itu mengarah pada kemaslahatan dan mengarah pada kemajuan.
"Makanya tidak mudah menjadi sumber inspirasi, karena inspirasi itu bukan semata-mata karena kata-kata, tapi inspirasi harus berbasis pada karya. Sehingga kita harapkan para profesor seperti ini harus punya karya-karya yang menginspirasi," ucap Arif Satria.
Pewarta: Sean Filo MuhamadUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.