Jakarta (ANTARA) - Momentum kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Republik India ke Indonesia kembali menegaskan eratnya hubungan kedua negara yang telah terjalin selama berabad-abad. Selain kerja sama di bidang ekonomi, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan pertahanan, hubungan Indonesia dan India juga terus diperkuat melalui diplomasi budaya serta hubungan antarmasyarakat (people-to-people diplomacy) yang menjadi fondasi penting kemitraan kedua bangsa.
Dalam semangat tersebut, hadir sebuah buku berjudul Sisi Lain India, karya Sora Algamar, alumni IDN Boarding School Solo, yang merekam pengalaman mengikuti program IDN Backpacker, sebuah model pendidikan berbasis pengalaman (experiential learning) yang membawa peserta didik belajar langsung dari masyarakat, sejarah, budaya, dan kehidupan di berbagai negara.
Buku yang diterbitkan Klinik Digital bersama Litnus ini bersikan pengalaman mengikuti perjalanan lintas sebelas negara kemudian menjadi refleksi personal yang dituangkan dalam buku ini, dimulai dari India sebagai destinasi pertama.
Berbeda dari catatan perjalanan pada umumnya, Sisi Lain India tidak hanya menceritakan destinasi wisata. Buku ini mengajak pembaca melihat India melalui perspektif seorang anak muda Indonesia yang belajar memahami kehidupan, keberagaman, dan kemanusiaan secara langsung melalui perjalanan.
Keistimewaan buku ini semakin terasa lewat dukungan Deputy Chief of Mission, Embassy of India, Mr. Bijay Selvaraj, dengqn menuliskan prakata pembuka buku tersebut, yang menegaskan bahwa buku ini merupakan refleksi persahabatan antara India dan Indonesia yang dibangun melalui pengalaman generasi muda serta pertukaran budaya yang mempererat hubungan kedua bangsa.
Beliau juga menyampaikan harapannya “I hope that readers, especially young Indonesians, will find inspiration in these pages.”
Bagi Sora Algamar, India bukan sekadar negara pertama yang dikunjungi dalam program backpacker. India menjadi ruang belajar yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Saya berangkat ke India dengan rasa ingin tahu, tetapi pulang dengan rasa hormat. Saya belajar bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami. Saya menemukan bahwa keramahan sering hadir dalam bentuk yang sederhana melalui sapaan, senyuman, percakapan, dan kesediaan seseorang membantu orang asing. Semoga buku ini dapat mengajak lebih banyak anak muda Indonesia untuk melihat dunia bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati.”
Menurutnya, perjalanan tersebut mengajarkan bahwa pengalaman paling berharga bukanlah ketika semuanya berjalan mudah, melainkan ketika seseorang belajar menghadapi ketidakpastian, beradaptasi, dan bertumbuh bersama masyarakat yang berbeda latar belakang.
Pembina Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), yang menaungi Klinik Digital, Devie Rahmawati, memandang buku ini sebagai representasi penting mengenai arah pendidikan masa depan.
“Kita hidup di zaman ketika informasi menjadi semakin murah, tetapi pengalaman hidup yang autentik justru semakin mahal. Anak-anak muda mengetahui begitu banyak hal, tetapi semakin sedikit yang benar-benar mereka alami sendiri. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi harus menghadirkan pengalaman yang mengubah cara seseorang berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan.” katanya.
Menurut Devie, yang juga founder dari Klinik Digital, metode backpacker yang dikembangkan IDN Boarding School menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu dibangun melalui ruang kelas.
“Backpacker bukan sekadar perjalanan geografis, namun, perjalanan psikologis, sosial, dan moral. Ketika seorang anak muda harus hidup di tengah budaya yang berbeda, mengelola keterbatasan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, di situlah resiliensi, empati, kepemimpinan, dan kebijaksanaan mulai tumbuh. Dunia tidak lagi hanya menjadi tempat yang dikunjungi, tetapi menjadi ruang kelas yang menghidupkan manusia.”
Bagi Mila Viendyasari, editor dari Klinik Digital, buku ini menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu lahir dari forum resmi antarnegara.
“Hubungan antarnegara memang dibangun melalui kebijakan. Namun hubungan antarmasyarakat dibangun melalui cerita, pengalaman, dan rasa ingin tahu. Ketika seorang pelajar Indonesia belajar langsung di India, berbincang dengan masyarakat lokal, mengunjungi universitas, rumah ibadah, pasar tradisional, hingga merasakan kehidupan sehari-hari, sesungguhnya individu sedang membangun diplomasi dalam bentuk yang paling manusiawi.”
Menurut Rienzy Kholifatur, editor di Klinik Digital, pengalaman backpacker menjadi laboratorium kehidupan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh pembelajaran konvensional.
“Life skills tidak lahir ketika seseorang hanya mendengar teori tentang kepemimpinan atau resiliensi. Life skills tumbuh ketika seseorang harus mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, mengelola emosi, menyelesaikan konflik, hidup dengan keterbatasan, dan tetap bertanggung jawab terhadap pilihannya. Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang membentuk karakter secara otentik.”
Sementara itu, Giri Lumakto, editor di Klinik Digital menilai perjalanan lintas budaya mengajarkan bahwa identitas tidak menjadi lemah ketika bertemu budaya lain, tetapi justru semakin matang.
“Perjalanan mengajarkan bahwa dunia tidak menuntut kita menjadi sama. Dunia mengajarkan kita untuk saling memahami. Ketika peserta didik belajar langsung dari masyarakat dunia, mereka tidak kehilangan identitas sebagai orang Indonesia, tetapi justru semakin memahami siapa dirinya dan bagaimana menghargai perbedaan.”
Backpacker sebagai Sekolah Kehidupan
Klinik Digital memandang metode backpacker yang dikembangkan IDN Boarding School sebagai salah satu contoh inovasi pendidikan karakter yang relevan bagi Generasi Z.
Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, pengalaman hidup nyata justru menjadi semakin bernilai. Backpacker menghadirkan ruang belajar yang melatih kemandirian, komunikasi lintas budaya, kepemimpinan situasional, kemampuan memecahkan masalah, ketahanan mental, hingga empati sosial melalui pengalaman langsung.
Bagi Klinik Digital, pendidikan masa depan tidak hanya diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, tetapi dari seberapa siap seseorang hidup bersama orang lain, menghadapi perubahan, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Penerbitan buku ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, Penerbit Litnus, serta Kedutaan Besar India di Jakarta yang dibimbing Bapak Kholil Azis beserta tim, yang dengan penuh perhatian memfasilitasi proses komunikasi, memberikan dukungan, dan mendorong terwujudnya buku ini.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.