Depok (ANTARA) - Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Kiki Verico menegaskan bahwa kunci utama untuk lolos dari "jebakan kelas menengah" atau middle income trap (MIT) terletak pada stabilitas nilai tukar rupiah dan efisiensi investasi nasional.

Menurut Kiki Verico yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan FEB Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum, di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Senin mengatakan klasifikasi kelas menengah yang dirilis oleh Bank Dunia memiliki rentang yang sangat panjang, yakni terbagi atas kategori menengah-bawah (1.136–4.495 dolar AS) dan kategori menengah-atas (4.496–13.935 dolar AS).

"Apabila tidak disokong oleh performa akselerasi ekonomi yang tepat, sebuah negara rentan terjebak dalam waktu yang sangat lama pada fase menengah ini lantaran kategorinya yang begitu panjang," katanya.

Untuk itu, ada empat variabel krusial yang wajib dijaga oleh pemerintah secara simultan, yakni pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, pengendalian jumlah penduduk, dan stabilitas nilai tukar mata uang.

Riset Kiki menunjukkan bahwa sekitar 48 persen industri manufaktur berskala menengah-besar di Indonesia sangat bergantung pada impor bahan mentah, bahan baku, hingga mesin-mesin operasional.

Baca juga: Universitas Indonesia dan SUFE jajaki kemitraan strategis dalam bidang ekonomi dan bisnis

Ironisnya, mayoritas penjualan produk akhir (output) mereka justru ditujukan untuk pasar domestik. Sektor-sektor strategis seperti industri kendaraan bermotor, alat listrik, logam dasar, komputer, dan kimia memiliki risiko kerugian yang sangat tinggi ketika rupiah melemah karena orientasi pasar domestik mereka berada di atas 60 persen.

Ketika rupiah terus mengalami depresiasi, biaya produksi otomatis membengkak karena belanja modal menggunakan dolar AS sementara pendapatan berupa rupiah.

Fenomena inilah yang memicu imported inflation (inflasi akibat barang impor). Peningkatan biaya ini berdampak pada penurunan daya beli kelas menengah, memangkas optimisme produksi, dan pada akhirnya menurunkan pendapatan per kapita nasional.

Oleh sebab itu, menstabilkan nilai tukar, baik dalam bentuk nominal dan riil melalui peningkatan cadangan devisa menjadi langkah mutlak yang tidak bisa ditawar.

Guna mendatangkan devisa yang melimpah dan menjaga kekuatan rupiah, Kiki Verico merumuskan tiga strategi utama yang saling berkaitan. Strategi pertama adalah dengan meningkatkan efisiensi investasi (menurunkan ICOR).

Baca juga: Ekonom UI usulkan pendekatan negosiasi dengan AS dan reformasi regulasi

Indonesia harus memastikan ekonominya bersifat lincah (agile) dengan pasokan agregat yang elastis. Indikator yang digunakan adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Kiki mengibaratkan pertumbuhan ekonomi sebagai "kecepatan", sedangkan ICOR adalah "pace" (ritme lari) ekonomi.

Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, nilai ICOR atau efisiensi investasi harus diturunkan, salah satunya dengan memastikan anggaran pemerintah efektif meningkatkan dampak pengganda ekonomi.

Strategi kedua adalah dengan masuk dan eksis dalam jaringan manufaktur dunia. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau sekadar menjual produk negara lain.

Indonesia harus memperkuat posisi basis produksi global baik dari sisi keterlibatan input impor maupun keterkaitan produksi, seperti pada rantai pasok industri sirkuit terpadu elektronik (electronic integrated circuits/HS-8542) di kawasan Asia Tenggara.

Lalu, strategi yang ketiga adalah melalui penguatan daya saing Indonesia di rantai nilai global.

Belajar dari keberhasilan Jepang dan Korea Selatan yang sukses lolos dari jebakan MIT, pemerintah harus jeli mengidentifikasi produk unggulan ekspor serta mitra dagang strategis melalui analisis daya saing makro global (seperti V-Index, RCA, dan CMSA).

Baca juga: Pengamat: Konsep Danantara bisa contoh khazanah

Sebagai institusi pendidikan tinggi terdepan di Indonesia, UI berkomitmen penuh mendukung pemerintah dengan menghadirkan kajian-kajian ekonomi berbasis riset ilmiah yang kuat.

Analisis yang dihadirkan Kiki mengingatkan bahwa peningkatan devisa dan investasi fisik jangka panjang membutuhkan prasyarat mutlak, yaitu hadirnya institusi hukum dan regulasi yang berkualitas global, adil, serta mampu menumbuhkan pasar secara sehat.

Guna mencegah terjerembab dalam jebakan kelas menengah (MIT), kebijakan ekonomi internasional Indonesia ke depan harus mampu mengintegrasikan tiga hal sekaligus secara komprehensif, terutama pengelolaan investasi fisik, penguatan daya saing ekspor, dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang adaptif terhadap penguasaan teknologi.

Melalui sinergi ketiga aspek ini, stabilitas nilai tukar akan terjaga, industri manufaktur dapat bergerak produktif, dan lapangan kerja akan terbuka luas demi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026