Jakarta (ANTARA) - Musikal kolaborasi bersama Jakarta Movin, Indonesia Kaya, dan MALIQ & D'Essentials mengajak masyarakat merayakan harapan, keluarga, dan perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.

Semangat inilah Pelita Air diwujudkan melalui Musikal Senja Teduh Pelita, sebuah teater musikal adaptasi lagu-lagu MALIQ & D'Essentials yang dipersembahkan oleh Jakarta Movin bersama Indonesia Kaya.

Program Manager Indonesia Kaya, Billy Gamaliel dalam keterangannya, Jumat mengatakan bahwa seni pertunjukan memiliki kekuatan untuk menghubungkan berbagai generasi sekaligus mengajak masyarakat berefleksi terhadap kehidupan.

"Kami percaya seni pertunjukan mampu menghadirkan ruang untuk berdialog, merasakan, dan bertumbuh bersama. Melalui Musikal Senja Teduh Pelita, kami ingin terus mendukung lahirnya karya-karya berkualitas yang memperkuat ekosistem seni pertunjukan Indonesia," katanya.

Sementara itu, Produser sekaligus Sutradara Musikal Senja Teduh Pelita, Nuya Susantono, menjelaskan bahwa kisah dalam musikal ini lahir dari interpretasi atas lirik dan semesta musikal MALIQ & D'Essentials yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kisah yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita adalah universe yang lahir dari inspirasi atas kejeniusan bunyi dan aksara khas MALIQ & D’Essentials yang indah, dekat, dan penuh refleksi atas hidup yang kita jalani. Bahwa di dalam diri kita ada cinta besarnya Arah yang akan melakukan apapun untuk orang yang disayanginya. Dalam diri kita pula ada Kala, yang berani berpikir kritias akan apa itu benar dan salah. Dan kita semua adalah Pasukan Pelita yang terus bertahan dan berjuang merawat kehidupan,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, Pelita Air menghadirkan semangat Terang Kala Pelita melalui Musikal Senja Teduh Pelita, sebuah keyakinan bahwa secercah harapan selalu mampu menerangi langkah, bahkan di tengah situasi yang paling menantang.

Dipentaskan pada 3–12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Musikal Senja Teduh Pelita mengajak penonton mengikuti perjalanan sembilan anak yang berusaha membangun kembali kehidupan setelah dunia mengalami kehancuran akibat krisis lingkungan, konflik, dan perubahan zaman.

Dipimpin oleh Arah, yang diperankan secara bergantian oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, membentuk Pasukan Pelita untuk mencari harapan baru, sekaligus menemukan makna keluarga, keberanian, dan kepedulian terhadap masa depan bumi.

Bagi Pelita Air, kisah tersebut menjadi refleksi atas nilai yang selama ini dipegang perusahaan—bahwa setiap perjalanan selalu memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar berpindah tempat.

Setiap langkah adalah kesempatan untuk membawa harapan, membangun koneksi antarmanusia, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Sebagai bagian dari perayaan tersebut, Pelita Air menghadirkan in-flight music 'Terang Kala Pelita' versi Jakarta Movin yang akan menemani setiap
perjalanan penumpang hingga 1 Agustus 2026.

Sebanyak hampir 20 lagu MALIQ & D'Essentials, mulai dari Senja Teduh Pelita, Himalaya, Aurora, Jalan, Pulang hingga lagu-lagu dari album Begini Begitu, diinterpretasikan menjadi bagian dari perjalanan emosional para tokohnya.

Mewakili MALIQ & D'Essentials, Angga Puradiredja mengungkapkan bahwa musikal ini memberikan kehidupan baru bagi lagu-lagu mereka.

“Hari ini, lewat Musikal Senja Teduh Pelita, lagu-lagu kami menemukan rumah baru. Mereka tidak lagi hanya hadir untuk didengar, tapi juga untuk dilihat, dirasakan, dan dihidupkan dalam sebuah dunia yang baru," ujarnya.

"Mungkin memang begitulah seharusnya karya hidup. Ia tidak berhenti di bentuk pertamanya. Semoga pertunjukan ini menjadi ruang yang hangat untuk bertemu kembali dengan lagu-lagu yang mungkin sudah kita kenal, melalui pengalaman yang berbeda. Dan semoga, setelah pertunjukan ini selesai, lagu-lagu itu pulang bersama kalian dengan cara dan rasa yang baru," ujarnya.

Menghadirkan 32 pemeran, termasuk 11 aktor anak, Musikal Senja Teduh Pelita dibangun oleh 200 insan kreatif dengan dukungan tata panggung, projection mapping, multimedia, laser, tata musik orkestra secara langsung oleh Wishnu Dewanta Orchestra, hingga teknik puppetry yang menghadirkan satwa-satwa Indonesia ke atas panggung.

Sejalan dengan pesan yang dibawa pertunjukan, Musikal Senja Teduh Pelita juga mengajak masyarakat mengambil langkah nyata menjaga bumi melalui kolaborasi bersama Remind Indonesia, pengelola sampah elektronik.

Selama periode pertunjukan, penonton dapat membawa sampah elektronik seperti telepon genggam, headset, kabel, maupun perangkat elektronik kecil lainnya untuk didaur ulang secara bertanggung jawab.

Nuya Susantono mengatakan kami berharap setiap orang pulang dari pertunjukan ini dengan satu pertanyaan sederhana: dunia seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi masa depan? Semoga karya ini tidak hanya menghibur, tapi juga menggerakkan hati dan pikiran kita ke arah yang luhur.

Melalui kolaborasi ini, Pelita Air berharap perjalanan tidak berhenti ketika pesawat mendarat.

Musikal Senja Teduh Pelita masih dapat disaksikan hingga 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tiket tersedia melalui website maupun aplikasi Tiket.com.




Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026