Bogor (ANTARA) - Jembatan Gantung Rawayan atau juga dikenal Jembatan Gantung Tarumanagara yang menghubungkan Kecamatan Rancabungur dan Cibungbulang Kabupaten Bogor menjadi salah satu jembatan terpanjang di Bogor dan juga eksotik.
Jembatan gantung itu juga termasuk jembatan "ekstrem" karena membentang sepanjang kurang lebih 130 meter dengan ketinggian ke dasar Sungai Cisadane mencapai seratusan meter.
Sayangnya di salah satu ujung jembatan, tidak dilengkapi pagar pembatas yang permanen dari besi, sehingga warga setempat berinisiatif membangunkan dari bambu untuk menghindari adanya pelintas yang jatuh.
Kampung Karacak Desa Rancabungur, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor. Sedangkan kampung di seberangnya Muara, Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Melintasi jembatan ekstrem itu memerlukan kesiapan tersendiri karena serasa berjalan di atas awan dengan panorama dasar sungai yang bisa menimbulkan rasa mual. Bagi penggemar gowes petualang, jalur itu merupakan salah satu jalur wajib. Jaraknya tidak jauh dari pusat Kota Bogor.
Melintas di jembatan rawayan, serasa berjalan kaki di atas awan, terutama bisa pada pagi hari. Hembusan angin dari kiri kanan jembatan menjadi salah satu sensasi yang unik dan membutuhkan sedikit adrenalin.
Tidak sedikit penyeberang yang memiliki fobia pada ketinggian, menangis sepanjang jembatan dan harus dipandu oleh orang lain.
Jembatan Rawauan Tarumanagara sangat ikonik, dan sempat menjadi salah satu kawasan wisata. Konstuksinya kokoh terbuat dari kawat sling ukuran besar yang ditambatkan ke empat tiang pancang ukuran empat persegi panjang yang besar dan kokoh di kedua ujung jembatan itu.
Sementara bagian lantai jembatan yang dibangun pada tahun 2021 itu terbuat besi plat ukuran besar dengan ketebalan yang aman.
Jembatan itu hanya bisa dilintasi oleh pejalan kaki, pesepeda atau pengendara sepeda motor. Untuk melintas direkomendasikan hanya untuk 10 orang secara bergantian.
Tidak boleh neko-neko saat melintas seperti bermain-main, meloncat-loncar atau bersefly di tengah jembatan karena selain dapat mengganggu pengguna jembatan yang lain juga megantisipasi posel lepas dan nyemplung ke dasar Sungai Cisadane.
Bagi yang membawa anak kecil, harus dipastikan di bawah pengawasan orang tua atau orang dewasa.
Untuk beristirahat setelah menyeberang, di salah satun ujung jembatan berdiri warung yang berjualan makanan, kopi lengkap dengan bangku terbuat dari bambu.
Pewarta: Pewarta BPJEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.