Jakarta (ANTARA) - Kongres II Pemuda Kaum Betawi menegaskan komitmen organisasi untuk mendorong transformasi masyarakat Betawi melalui penguatan budaya, kemandirian ekonomi, dan pembangunan kepemimpinan generasi muda.

Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, Masykur Isnan dalam keterangannya, Senin menyampaikan manifesto “Betawi Revolusi” yang menekankan perlunya perubahan paradigma organisasi di era modern.

Menurut dia, organisasi tidak lagi cukup berfungsi sebagai wadah administratif atau penggalangan massa, melainkan harus mampu membangun jejaring pengetahuan, memperluas pengaruh, dan menghasilkan nilai-nilai yang relevan bagi masyarakat.

Ia menilai masyarakat Betawi memiliki modal sosial, budaya, dan intelektual yang besar untuk menghadirkan perspektif yang moderat, inklusif, serta berorientasi pada kemajuan kebudayaan dan peradaban.

Dalam pidatonya, Masykur juga menyoroti berbagai persoalan struktural yang masih dihadapi masyarakat Betawi, mulai dari berkurangnya kepemilikan lahan akibat pembangunan kota, keterbatasan akses terhadap pendidikan dan lapangan pekerjaan, hingga minimnya keterlibatan dalam proses pengambilan kebijakan publik.

Karena itu, menurut dia, masyarakat Betawi tidak dapat lagi hanya berkutat pada persoalan internal, tetapi harus menjadi bagian penting dalam penentuan kebijakan di bidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan.

“Diam atau bergerak menjadi pilihan. Pemuda Kaum Betawi memilih untuk bergerak demi menjaga keagungan Betawi. Ini bukan chauvinisme sempit, melainkan ikhtiar menjaga kearifan lokal agar tidak tergerus perubahan zaman,” ujar Masykur.

Selain mendorong penguatan peran masyarakat Betawi dalam ruang publik, kongres juga menekankan pentingnya transformasi organisasi menuju konsep “Organisasi 5.0”.

Transformasi tersebut mencakup pembaruan tata kelola, sistem kaderisasi, produksi pengetahuan, pengelolaan data, hingga pengembangan ekosistem digital tanpa meninggalkan akar tradisi dan budaya.

Menurut Masykur, tradisi tidak boleh berhenti sebagai warisan sejarah, tetapi harus menjadi sumber inovasi sosial dan intelektual yang mampu menjawab tantangan masa kini.

Dalam kesempatan itu, Pemuda Kaum Betawi juga menegaskan dukungannya terhadap pembentukan Majelis Kaum Betawi (MKB) sebagai wadah kelembagaan yang dinilai dapat memperkuat posisi masyarakat Betawi di masa depan.

Melalui MKB, organisasi berharap dapat menghadirkan program-program yang lebih sistematis, antara lain pembentukan badan otonom di bidang kepemudaan, usaha, dan profesi, serta pengembangan kaderisasi tematik melalui Bale Digital, Bale Politik, Jakarta Inkubator Bisnis (Jakin), dan Talenta Jakarta yang berfokus pada sertifikasi kompetensi serta pencarian talenta.

Kongres II Pemuda Kaum Betawi diharapkan menjadi titik awal penguatan peran generasi muda Betawi dalam menjaga identitas budaya sekaligus meningkatkan daya saing masyarakat di tengah dinamika pembangunan Jakarta dan perubahan global.

Kongres yang digelar di Bale H. Sanusi Konte, Jakarta, Minggu (5/7/2026), mengusung tema “Betawi Revolusi: Transformasi Budaya, Kemandirian Ekonomi, dan Kepemimpinan Masa Depan.”

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh Betawi, unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), organisasi kepemudaan, serta berbagai elemen masyarakat.

Forum itu menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus perumusan arah gerak Pemuda Kaum Betawi dalam menghadapi perubahan sosial, ekonomi, dan politik.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026