Jakarta (ANTARA) - Jakarta mungkin sedang jatuh cinta.

Bukan kepada gedung baru. Bukan pula kepada jalan layang yang lebih tinggi atau simpang susun yang lebih rumit. Kali ini, ia seperti sedang belajar mencintai sesuatu yang selama berpuluh tahun lalu nyaris tidak ada: manusia yang berjalan kaki.

Barangkali terdengar berlebihan. Kota sebesar Jakarta mana sempat jatuh cinta? Ia terlalu sibuk. Terlalu bising. Terlalu sering dikejar waktu. Bahkan lampu merah pun rasanya hanya jeda pendek sebelum semua kembali menderu.

Namun Minggu pagi memiliki cara sendiri untuk membantah semua itu.

Di Jalan HR Rasuna Said, orang-orang punya tempat baru untuk menikmati salah satu inti kota tanpa suara mesin dan klakson yang biasanya tidak pernah sepi. Berlari, bersepeda, main sepatu roda, atau sekadar jalan kaki sederhana bersama keluarga dengan ayah yang mendorong kereta bayi. Yang mungkin tidak akan pernah terjadi di tempat yang sama itu pada Senin pagi. Seakan jalan selebar itu memang sejak awal diciptakan untuk mereka.

Mungkin beginilah rupa sebuah kota ketika ia berhenti sebentar.

Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Rasuna Said belum lama diadakan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sudah meresmikannya bertepatan dengan perayaan ulang tahun Jakarta yang nyaris lima abad, 499 tahun.

Cabang lain CFD (car free day) di jalan protokol Jakarta ini punya alasan sederhana sekaligus masuk akal untuk diadakan. Kawasan CFD Sudirman-Thamrin sudah terlalu padat setiap akhir pekan. Jakarta, memang sedang baik hati dengan menambah banyak ruang terbuka bagi masyarakatnya.

Menariknya, Rasuna Said bukan sekadar lokasi baru. Kawasan itu seperti menyimpan ironi kecil. Bertahun-tahun, orang yang mahfum setiap tata letak gedung dan ruas jalan di sana sangat akrab dengan tiang-tiang besar monorel yang tidak jadi dibangun. Tiang-tiang beton yang berdiri dengan besi tulangan kokoh muncul dari tanah, menjulang,  berkarat, usang, dan kadang ditempeli oleh panel-panel iklan. Merusak pemandangan.

Kini, tiang-tiang itu sudah disingkirkan. Jalan yang tadinya terseparasi oleh tiang-tiang itu kini menyatu, lebar, dan lebih nyaman dilihat mata. Trotoarnya semakin lebar. Lengkap dengan peremajaan halte bus ataupun renovasi besar-besaran halte TransJakarta yang terintegrasi dengan perhentian monorel Jabodebek.

Jakarta, dari gubernur ke gubernur, seperti seseorang yang bertumbuh makin dewasa. Melupakan ketidakteraturan layaknya pemuda, jadi makin bijak dan membawa kenyamanan pada siapa saja.

Taman kota

Dulu, ketika mendengar kata taman kota, yang terbayang biasanya hanyalah rumput, tanaman-tanaman hias, beberapa pohon, bangku-bangku dari batu atau besi, lalu sudah. Sekadar tempat mencari oksigen yang lebih baik sembari berlindung dari sengatan matahari. Tapi sekarang, taman mulai memiliki kepribadian.

Di Cakung, ada Taman Gapura Muka yang dulunya adalah lahan tidur tanpa sesuatu apapun, kecuali sampah berserakan di atas tanah. Namun kini jadi tempat bermain, ruang urban farming, hingga amfiteater kecil yang dekat dengan pemukiman warga.

Di Koja, Jakarta Utara, tepatnya di bawah kolong Jalan Tol Wiyoto Wiyono atau Jalan Jampea, dari lahan yang jadi tempat pembuangan sampah ilegal yang kumuh kini berubah menjadi taman kering dengan fasilitas lapangan futsal dan skatepark: Taman Si Pitung.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian memperkenalkan konsep vertical garden, rain garden, bahkan banyak memanfaatkan ruang-ruang di bawah jalan layang yang selama ini lebih sering menjadi ruang sisa. Tempat yang dahulu identik dengan kekumuhan total atau sudut kota yang enggan dilirik, perlahan diubah menjadi ruang aktivitas.

Di kolong jalan layang Pasar Rebo Jakarta Timur, yang pada era Gubernur Anies Baswedan telah terbangun skatepark berstandar internasional, kini ditambahkan fasilitas sasana tinju. Rencana serupa, skatepark dan sasana, juga akan di bangun di kolong jalan layang Kampung Melayu.

Ada sesuatu yang menyenangkan dari cara berpikir seperti itu. Seperti mengingatkan bahwa tidak ada ruang yang benar-benar sia-sia. Bahkan sudut kota yang paling terlupakan pun masih bisa menemukan kehidupan baru.

Tapi, Jakarta tidak hanya hadir untuk ruang-ruang sisa. Jika dulu Taman Tebet Eco Park hanya satu-satunya ruang terbuka hijau yang dibangun berskala besar dan dengan konsep modern, kini hadir Taman Bendera Pusaka.

Bukan membangun taman baru, tapi yang sudah ada seperti Taman Langsat, Ayodya, dan Leuser disatukan menjadi satu kawasan hijau dengan lintasan joging sepanjang sekitar 1,2 kilometer. Lebih panjang daripada satu putaran di area lari Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Para pelari budaya mungkin akan menganggapnya statistik biasa. Namun bagi kota, itu seperti mengatakan bahwa ruang publik tidak harus selalu berada di pusat perhatian agar terasa penting.

Jakarta pula yang menghadirkan Taman Anak Sejahtera yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial.

Itu adalah ruang pengasuhan dan pendidikan anak usia dini secara cuma-cuma, layaknya daycare, yang diperuntukkan bagi keluarga prasejahtera atau rentan seperti buruh, pedagang, dan asisten rumah tangga.

Fasilitas ini mempersilakan anak-anak usia dua hingga tujuh tahun untuk mendapatkan makanan bergizi tiga kali sehari mulai dari sarapan, makan siang, dan camilan atau susu. Fungsi utama lainnya adalah menyediakan ruang bermain sekaligus kelas belajar, dan perpustakaan untuk menstimulasi pertumbuhan anak.

Sekali lagi Jakarta tidak pilah-pilih warganya untuk bisa menikmati fasilitas publik. Mulai dari pecinta olahraga dengan alat dan sepatu seharga jutaan, modal dengkul, hingga khusus bagi masyarakat prasejahtera.

Jakarta seperti mengatakan bahwa setiap anak berhak mempunyai ruang untuk tumbuh.

Perubahan lain mungkin tidak terlalu fotogenik.

Trotoar

Tidak banyak orang mengunggah foto trotoar ke media sosial. Kecuali kalau sedang rusak, atau sedang diambil alih oleh pemotor yang enggan terjebak macet.

Padahal, hubungan sebuah kota dengan trotoarnya sering kali lebih jujur daripada hubungan kota itu dengan gedung pencakar langit.

Trotoar tidak pernah berbohong. Kalau tidak ada, orang berjalan di jalan raya. Kalau terhalang tiang listrik, semua orang sama-sama harus memutar. Kalau berlubang, sepatu mahal dan sandal jepit akan sama-sama menginjak genangan. Sekarang di jalan-jalan protokol Jakarta, trotoarnya lebar-lebar dan nyaman dilalui oleh pejalan kaki.

Revitalisasi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah menjadi salah satu simbol kecil dari perubahan cara berpikir itu. JPO yang berdiri sejak 1968 kini dilengkapi lift bagi penyandang disabilitas dan ruang berjalan yang lebih lega.

Memang, pekerjaan rumahnya masih banyak.

DPRD DKI Jakarta masih mengingatkan bahwa belum semua trotoar maupun JPO ramah bagi penyandang disabilitas. Tetapi setidaknya arah perjalanannya mulai terlihat.

Sebuah perspektif kini bergeser dari berpikir keras mengurai macet dengan membangun jalan-jalan melayang atau bawah tanah agar mobil-mobil bisa lewat, menjadi membangun jalan-jalan yang nyaman bagi orang berjalan.

Perubahan-perubahan ini juga tidak berhenti di trotoar. Halte-halte Transjakarta mulai ditata agar terhubung lebih baik dengan JPO, LRT, Commuter Line, maupun layanan JakLingko. Di kawasan Latumeten, pembangunan jalan layang juga disertai penataan halte sehingga perpindahan antarmoda tidak lagi dipikirkan belakangan.

Ini mungkin terdengar teknis. Tetapi sesungguhnya sangat manusiawi.

Karena sebenarnya orang yang menggunakan transportasi publik tidak dimulai dari naik bus. Perjalanannya dimulai sejak langkah pertama keluar dari rumah.

Tentu saja Jakarta belum selesai.

Masih ada trotoar yang putus di tengah jalan, taman yang menunggu giliran diperbaiki, halte yang belum sepenuhnya ramah bagi semua orang, dan ruang hijau yang jumlahnya belum sebanyak yang diimpikan.

Kota sebesar Jakarta memang tidak berubah hanya karena satu kebijakan, satu gubernur, atau dua periode masa kepemimpinan. Ia berubah sedikit demi sedikit.

Dari gubernur ke gubernur. Bang Yos menginisiasi TransJakarta. Fauzi Bowo membangun koridor busway dan merancang konsep awal MRT. Jokowi membangun jaring pengaman sosial melalui KJP. Ahok memasifkan armada bus TransJakarta, di samping menyelesaikan masalah banjir. Anies Baswedan yang merevitalisasi banyak trotoar dan memanjangkan jangkauan TransJakarta melalui JakLingko. Dan Pramono Anung yang menata Jakarta jadi semakin hidup seperti sekarang ini.

Barangkali beberapa tahun dari sekarang, anak-anak yang hari ini bersepeda di Rasuna Said tidak akan pernah tahu bahwa jalan itu dulu lebih akrab dengan deru mesin daripada suara tawa. Mereka mungkin menganggap trotoar yang lebar, taman yang ramai, atau halte yang terhubung adalah sesuatu yang memang sewajarnya dimiliki sebuah kota.

Mungkin memang begitu seharusnya.

Sebab kota yang baik sering kali bukan kota yang membuat warganya terus terpukau. Ia adalah kota yang perlahan membuat hal-hal baik terasa biasa.

Lalu, ketika semua itu benar-benar menjadi biasa, barangkali kita akan lupa bertanya kapan Jakarta berubah.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026