Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyatakan Hari Keluarga Nasional mengingatkan bahwa kesehatan jiwa anak berawal dari rumah, sebab kehadiran kedua orang tua yang utuh dan menjalankan fungsi keluarga dengan penuh kasih dapat membangun generasi kuat dan percaya diri.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi di Jakarta, Selasa, menekankan pentingnya kehadiran ayah, baik secara emosional, psikologis, maupun sosial dalam pengasuhan agar anak tumbuh dengan ketangguhan mental sejak dini.
"Data menunjukkan sekitar sepertiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara fenomena fatherless—minimnya keterlibatan ayah—menjadi salah satu faktor risiko yang memperburuk kondisi tersebut. Anak yang tumbuh tanpa dukungan ayah lebih rentan terhadap perundungan, tawuran, hingga penyalahgunaan narkoba," katanya.
Baca juga: Kemendukbangga hadirkan daycare aman guna fasilitasi buruh pabrik di Bantul
Program skrining kesehatan jiwa yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2025–2026 menemukan hampir 10 persen anak Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari sekitar 7 juta anak yang diskrining, katanya, sekitar 4,4 persen atau 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sementara 4,8 persen atau 363 ribu anak mengalami depresi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kata dia, data Global School-Based Student Health Survey mencatat peningkatan signifikan kasus percobaan bunuh diri di kalangan remaja, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Angka ini menegaskan bahwa kesehatan jiwa anak bukan isu kecil, melainkan tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius lintas sektor.
Menurutnya, keluarga sejatinya memiliki delapan fungsi yang saling melengkapi. Fungsi keagamaan menanamkan nilai iman dan ketenangan batin, sementara fungsi sosial budaya memperkenalkan norma dan tradisi yang membentuk identitas. Fungsi cinta kasih menghadirkan kehangatan emosional, dan fungsi perlindungan menjadikan rumah sebagai tempat aman bagi anak.
Baca juga: Kemendukbangga/BKKBN akan luncurkan Akademi Keluarga pada Harganas 2025
"Fungsi reproduksi memastikan keberlanjutan generasi dengan perencanaan sehat, sedangkan fungsi sosialisasi dan pendidikan menjadikan keluarga sekolah pertama yang menanamkan nilai kejujuran dan disiplin. Fungsi ekonomi mengajarkan pengelolaan sumber daya, dan fungsi pembinaan lingkungan menumbuhkan kesadaran menjaga alam," ujar Imran.
Bila dijalankan konsisten, delapan fungsi ini menjadi benteng utama bagi kesehatan jiwa anak.
Dia menjelaskan, kampanye pengasuhan positif yang digerakkan Kementerian Kesehatan menekankan praktik sederhana namun berdampak besar. Luangkan waktu 15–30 menit tanpa gawai untuk bermain atau mengobrol dengan anak, dengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, dan fokuslah pada potensi yang mereka miliki.
Baca juga: Pernikahan dini jadi tantangan pembangunan keluarga yang berkualitas di Lampung
"Ayah diharapkan menjadi teladan penuh kasih, menunjukkan cara mengelola stres dan menerapkan disiplin positif tanpa kekerasan. Kehadiran ayah dan ibu yang seimbang membangun secure attachment—ikatan aman yang membuat anak mampu meregulasi emosi, membentuk resiliensi, dan menumbuhkan rasa percaya diri," ujarnya.
Dimensi kehadiran ayah terlihat dalam teladan, disiplin, dan keterlibatan aktif, sementara ibu menghadirkan kasih sayang konsisten, komunikasi empatik, dan penguatan potensi anak.
"Ketika keduanya hadir seimbang, anak tumbuh dalam lingkungan yang aman secara emosional, kaya teladan, dan tangguh menghadapi era digital. Sebaliknya, dominasi gawai dan risiko emotional fatherless—ayah hadir fisik tetapi tidak terlibat secara batin—dapat membuat anak kehilangan dukungan utama dan mencari perhatian di luar rumah," kata dia.
Pewarta: Mecca Yumna Ning PrisieUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.