Jakarta (ANTARA) - Sebagai wujud komitmen untuk memastikan hak atas layanan kesehatan bagi warga binaan pemasyarakatan, Pemerintah meluncurkan Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar warga di 532 lapas seluruh Indonesia.
"Pak Presiden berpesan agar program ini dilakukan kepada seluruh masyarakat, siapapun mereka, termasuk 272 ribu warga binaan di lebih dari 532 lapas dan rutan di seluruh Indonesia," ujar Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Dia menyebutkan bahwa program ini menargetkan ratusan ribu narapidana, tahanan, anak binaan, serta petugas pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program prioritas (Quick Win) Presiden Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan, katanya, bertanggung jawab menjaga kesehatan seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Oleh karena itu, dia berharap pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat membantu warga binaan menjaga kesehatannya selama menjalani masa pidana.
"Dengan demikian, saat kembali ke masyarakat, mereka tetap sehat dan memiliki usia harapan hidup yang sama dengan rata-rata masyarakat Indonesia, yakni 74 tahun," ujarnya.
Baca juga: Kemenkes perkuat kolaborasi untuk atasi penyakit Tuberkulosis di Garut
Baca juga: 52 juta orang ikuti CKG berdampak tingkatkan cakupan skrining TB
Dia juga menyoroti tingginya risiko penularan tuberkulosis (TB) di lingkungan lembaga pemasyarakatan. Berdasarkan data, prevalensi kasus TB di lapas mencapai 0,54 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 0,3 persen.
Menurutnya, kondisi warga binaan yang tinggal dalam lingkungan padat dengan jarak antarpenghuni yang berdekatan menyebabkan risiko penularan penyakit menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, skrining rutin menggunakan foto rontgen dada menjadi langkah yang sangat penting.
"TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi, pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, diobati pasti sembuh dan tidak menularkan lagi. Inilah mengapa skrining TB kita lakukan di lapas agar angka kematian akibat TB bisa menurun tajam," ujarnya.
Dia mengingatkan pentingnya deteksi dini untuk mencegah penyakit tidak menular, seperti stroke dan penyakit jantung. Ia berpesan kepada warga binaan maupun petugas agar disiplin menjaga tiga indikator kesehatan utama, yaitu tekanan darah di bawah 120/80 mmHg, kadar gula darah di bawah 200 mg/dL, dan kadar kolesterol di bawah 200 mg/dL.
Senada, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto menyatakan komitmen penuh jajarannya untuk menyukseskan program deteksi dini tersebut. Dia menyambut baik kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dalam mendukung target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.
Baca juga: Menkes sebut pakai cara-cara kreatif untuk pastikan kepatuhan pengobatan TB
"Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Oleh karena itu, diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan tinggi," kata Agus.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan terkait pemenuhan sarana dan prasarana di klinik lapas dan rutan.
"Sebagian alat kesehatan sudah kami terima, dan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga binaan," katanya.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan, Andi Saguni menjelaskan bahwa secara nasional program ini akan menyasar total 321.449 peserta yang terdiri atas 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas di 532 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang tersebar di 34 provinsi. Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.
"Sebagai tahap awal, peluncuran di Nusakambangan dilaksanakan selama empat hari, mulai 29 Juni hingga 1 Juli 2026, dengan target 5.768 orang, yang terdiri atas 4.842 warga binaan dan 926 petugas," ujarnya.
Paket layanan Cek Kesehatan Gratis yang diberikan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, tes cepat (rapid diagnostic test/RDT) HIV, skrining TB menggunakan foto rontgen dada, serta pengambilan sampel dahak bagi peserta yang bergejala untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Pewarta: Mecca Yumna Ning PrisieUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.