Kota Bogor (ANTARA) - Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menyebut pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Galuga dan Kayumanis, Bogor, Jawa Barat, menjadi langkah strategis mengurangi ketergantungan batu bara sekaligus memperkuat pemanfaatan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional.
"PSEL itu harapan masa depan Indonesia. Kita akan memiliki alternatif energi baru terbarukan," kata Dedie di Bogor, Selasa.
Ia mengatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Galuga dan Kayumanis menjadi bagian dari upaya mendorong transisi energi di tengah tingginya kebutuhan listrik nasional yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
PSEL Galuga rencananya akan mampu mengolah sampah hingga 1.500 ton per hari, sedangkan PSEL Kayumanis akan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.000 ton per hari.
Dedie menjelaskan, kebutuhan bahan bakar minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 700 ribu barel per hari. Di sektor ketenagalistrikan, penggunaan batu bara juga masih mendominasi sehingga pengembangan energi baru terbarukan perlu terus dipercepat.
Sebagai ilustrasi, PLTU Suralaya di Banten membutuhkan sekitar 32 ribu ton batu bara per hari untuk memasok listrik wilayah Jabodetabek. Menurut Dedie, kebutuhan energi tersebut setara dengan sekitar enam unit PSEL.
"Sudah saatnya kita tidak lagi bergantung pada batu bara. Berbagai negara di Eropa, Asia Tengah, hingga Timur Tengah telah beralih dan mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi," ujar dia.
Menurut dia, teknologi PSEL menggunakan sistem filtrasi berlapis sehingga emisi yang dihasilkan dapat dikendalikan dan memenuhi prinsip pengembangan energi baru terbarukan.
Ia menilai pembangunan dua unit PSEL di Bogor tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan penggunaan batu bara di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, termasuk akibat berkembangnya kendaraan listrik.
Selain menghasilkan listrik, PSEL juga menjadi solusi pengelolaan sampah di Kota Bogor. Saat ini timbulan sampah di Kota Bogor mencapai sekitar 1.000 ton per hari. Sebanyak 700 ton di antaranya diangkut ke tempat pemrosesan akhir menggunakan 110 truk, sedangkan sisanya belum seluruhnya tertangani.
Dedie mengatakan pengelolaan sampah melalui PSEL akan dipadukan dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), sehingga residu yang tidak lagi memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
"Jadi kita memiliki satu kebijakan yang holistik melalui PSEL, dimulai dari pemilahan sampah di hulu, kemudian reduce, reuse, dan recycle. Sampah yang benar-benar sudah tidak memiliki nilai ekonomis itulah yang seharusnya masuk ke dalam PSEL," katanya.
Sementara itu, Manajer PLN UP3 Bogor Grahaita Gumelar mengatakan PLN siap menyerap listrik yang dihasilkan PSEL Galuga dan Kayumanis sebagai bagian dari upaya meningkatkan bauran energi baru terbarukan.
"Kami memiliki target pada 2040 sebesar 40 persen bauran energi berasal dari energi baru terbarukan. Saat ini porsinya baru sekitar 16 persen. Dengan adanya berbagai kebijakan ini tentu akan membantu kami mempercepat pencapaian target tersebut," ujar dia.
Grahaita menambahkan PLN juga telah menyiapkan skema teknis penyaluran listrik dari PSEL ke gardu induk sebagai bentuk kesiapan menyambut operasional kedua fasilitas tersebut.
Pewarta: M Fikri SetiawanEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.