Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi Prof. Dr. Harrina Erlianti Rahardjo, Sp.U(K), Ph.D mengatakan bahwa gangguan kandung kemih bisa menyerang pria dan wanita.
“Bahwa kelainan saluran kemih bagian bawah itu bisa mengenai berbagai usia kemudian berbagai jenis kelamin, dia tidak eksklusif untuk perempuan,” kata Prof Rina yang menyelesaikan pendidikan kedokteran umum Universitas Indonesia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan bahwa terdapat beberapa macam gangguan yang terjadi pada kandung kemih yang patut dikenali, di antaranya adalah tidak bisa mengenali keinginan berkemih hingga mengompol, tidak bisa mengendalikan keinginan berkemih.
Kemudian apakah berkemih lancar, tidak perlu mengejan serta frekuensi buang air kecil dalam sehari.
Bila merasa terdapat kondisi yang tidak normal saat berkemih, ia menyarankan untuk melakukan pemeriksaan untuk memastikan.
Terlebih bila individu memiliki kondisi yakni memiliki keinginan berkemih 30 menit hingga 1 jam sekali, kemudian kerap terbangun saat malam hari untuk berkemih.
Meski demikian, ia menyerukan bahwa konsumsi makanan dan minuman juga berpengaruh pada saat berkemih, seperti minuman dengan kafein, minum air putih dengan jumlah banyak per hari.
“Cara kita berkemih itu juga memengaruhi timbulnya gejala pada saluran kemih,” katanya.
Adapun faktor lain yang bisa menyebabkan gangguan berkemih yakni, stres kronis. Hal lain soal faktor penyebab gangguan saluran kemih pada wanita yakni adanya penurunan peranakan usai melahirkan, turun panggul dan menopause juga disebutnya turut berperan.
Usia menurutnya mampu menyebabkan peningkatan sensitivitas pada kandung kemih sehingga terjadi peningkatan keinginan untuk berkemih, hal ini juga terjadi pada laki-kaki saat memasuki masa andropause, selain itu penyakit penyerta juga memengaruhi gangguan tersebut.
Pada kesempatan yang sama, dokter spesialis Rehab Medik Subspesialis Neuromuskular dr. Stephanie Theodora Y, Sp.KFR (K) menjelaskan bahwa terdapat kondisi yang dianggap menjadi gangguan berkemih dapat melakukan pemeriksaan secara medis.
Berkaca pada pasien yang ia tangani, rata-rata pasien mengalami gangguan berkemih dengan frekuensi satu jam sekali sehingga mengganggu aktivitas.
"Jangan dianggap enteng," katanya.
Ia lantas mengingatkan agar tidak berkemih dengan mengejan layaknya buang air besar.
Pewarta: Sinta AmbarwatiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.