Jakarta (ANTARA) - Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana membahas penggunaan teknologi dalam upaya pengembangan pariwisata dalam Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC).
Dalam ajang The 13th APEC Tourism Ministerial Meeting (TMM13) di Makau SAR, Tiongkok, Sabtu (27/6), dia menyampaikan bahwa teknologi dan inovasi digital berperan penting dalam pembangunan ekosistem pariwisata yang tangguh di kawasan.
"Sebagai negara yang sedang menjalani transformasi digital secara masif, Indonesia percaya bahwa titik temu antara teknologi pintar dan kolaborasi yang berpusat pada komunitas merupakan cara yang tepat untuk membangun ekosistem pariwisata yang tangguh, inklusif, dan terintegrasi di seluruh kawasan," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran pers kementerian pada Senin.
Baca juga: Menpar minta semua pihak utamakan keamanan dan keselamatan selama liburan sekolah
Dalam sesi pembahasan mengenai penggunaan teknologi digital dan teknologi baru dalam usaha pariwisata dan manfaatnya bagi pertumbuhan ekonomi kawasan APEC, ia mengemukakan bahwa inovasi digital dapat menjadi jembatan transformasi menuju berkualitas dan berkelanjutan di kawasan.
"Kami percaya bahwa inovasi digital harus menjadi jembatan untuk mentransisikan kawasan kita dari mass tourism menuju pariwisata yang bernilai tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan," katanya.
Indonesia mengajak anggota APEC untuk mengupayakan transformasi digital yang inklusif, mengurangi kesenjangan literasi digital, dan memastikan manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.
Sebagai contoh, delegasi Indonesia menyampaikan manfaat perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kawasan APEC untuk memfasilitasi transaksi dan memperkuat konektivitas ekonomi serta mempermudah pelaku usaha lokal mengakses pasar yang lebih luas.
Baca juga: Menpar sebut pariwisata Indonesia berada di jalur pertumbuhan positif
Delegasi Indonesia dalam pertemuan menteri pariwisata APEC juga mengemukakan perlunya peningkatan akses dan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam memanfaatkan infrastruktur digital serta pengelolaan destinasi secara cerdas.
Guna mendukung pengelolaan destinasi wisata, Kementerian Pariwisata RI mengembangkan MaiA, sarana perencanaan perjalanan berbasis kecerdasan buatan, untuk meningkatkan visibilitas destinasi serta menghadirkan pengalaman wisata yang lebih personal.
Pemanfaatan teknologi serupa di kawasan APEC diyakini dapat meningkatkan pengalaman wisatawan sekaligus mendukung pengembangan layanan pariwisata berbasis data.
Selain itu, perwakilan Indonesia dalam pertemuan APEC menyampaikan pentingnya peningkatan literasi digital tenaga kerja pariwisata untuk meningkatkan kecepatan adaptasi mereka dengan perkembangan teknologi.
Baca juga: Menpar pastikan Candi Prambanan siap sambut wisatawan jelang libur sekolah
"Inovasi digital harus menjadi alat yang mempersatukan, bukan penghalang bagi pengembangan yang inklusif," kata Widiyanti.
"Indonesia siap berkolaborasi dengan seluruh ekonomi APEC untuk membangun masa depan pariwisata yang maju secara teknologi, tangguh, inklusif, dan memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal," ia menambahkan.
Dia juga menyampaikan dukungan Indonesia terhadap implementasi APEC Tourism Strategic Plan 2025–2029, Putrajaya Vision 2040, serta hasil kajian APEC mengenai peningkatan efektivitas langkah-langkah fasilitasi perjalanan Wisata di kawasan APEC.
Pewarta: Hreeloita Dharma ShantiUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.