Depok (ANTARA) - Momen Musim liburan sekolah sering kali membawa dilema tersendiri bagi para orang tua. Ketika rutinitas belajar terhenti, anak justru rentan terjebak dalam kebiasaan pasif.
Para ahli kerap menyebut fenomena ini dengan istilah Structured Days Hypothesis, dimana absennya jadwal teratur membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu tanpa bergerak.
Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima dalam keterangannya, Jumat, mengajak kita untuk secara perlahan mengurai rasa cemas tersebut.
Dalam acara "Community Playdate : Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak" yang digelar oleh Cap Kaki Tiga Anak, Saskhya mengingatkan bahwa menyiasati liburan dengan segudang jadwal les tambahan justru bukan jalan keluar yang pas.
Bukannya membuat anak menjadi produktif, hal itu malah merampas ruang otonominya. Padahal, waktu luang yang bebas aturan, bahkan momen saat mereka mengeluh bosan, tanpa disadari menjadi ruang emas untuk memantik kreativitas dan melatih cara berpikir mereka.
"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat Adventurous Play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," papar Saskhya.
Lewat permainan inilah, anak belajar langsung bagaimana menghadapi ketidakpastian, bangkit saat terjatuh, dan berani mengambil keputusan sendiri.
Pengalaman menghadapi risiko secara langsung ini adalah bekal utama untuk membentuk mental anak yang tangguh dan mandiri. Terlalu sering melarang dengan niat melindungi justru tanpa sadar mengirimkan pesan bahwa dunia ini sangat menakutkan dan mereka tidak cukup mampu menghadapinya.
Menariknya, membiarkan anak aktif bereksplorasi justru bekerja layaknya efek anti-phobic atau “vaksin kecemasan alami”. Sebuah survei dari University of Exeter di Inggris terhadap 2.500 orang tua membuktikan bahwa anak yang akrab dengan permainan fisik yang menantang justru justru memiliki tingkat gejala kecemasan dan depresi yang jauh lebih rendah.
Lalu, bagaimana peran ibu agar anak tetap aman tanpa harus merasa dikekang? Jawabannya ada pada keseimbangan dan kepercayaan. Pada usia sekolah dasar, ibu tidak perlu menempel atau memantau fisik dari jarak sangat dekat setiap waktu. Ibu bisa mulai menerapkan konsep supervision partnership.
Artinya, hal terpenting adalah kehadiran ibu yang senantiasa mudah dijangkau. Ibu cukup memposisikan diri sebagai zona aman (secure base) dan tempat berlindung (safe haven) bagi mereka.
"Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain," jelas Saskhya.
Senior Brand Manager Cap Kaki Tiga Anak Jesica Christianty kami sangat mengerti dilema yang dihadapi para ibu saat liburan sekolah tiba. Para ibu sadar betul anaknya butuh jeda dari gadget dan ingin mereka aktif bereksplorasi di luar ruangan.
Namun pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa anak akan drop atau jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu kerap kali menghantui.
Kegelisahan keseharian inilah yang mendorong Cap Kaki Tiga Anak hadir untuk memberikan ketenangan penuh bagi para ibu, , sehingga anak-anak bisa bebas bereksplorasi tanpa rasa khawatir.
Buktinya pun cukup dekat dengan keseharian kita. Sejumlah studi dan survei terbaru mencatat bahwa saat libur panjang tiba, durasi screen time anak melonjak signifikan hingga mencapai dua setengah jam setiap harinya.
Di saat yang sama, aktivitas fisik dan waktu tidur mereka justru merosot. Padahal, pedoman kesehatan dari WHO sangat menganjurkan agar anak usia sekolah tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari.
Sebagai ibu, niat hati tentu ingin mengajak si kecil bermain di luar rumah, menghirup udara segar, dan bebas bereksplorasi.
Namun, naluri protektif keibuan kerap kali mendadak menyala. Selalu ada selip rasa waswas saat melihat anak berpanas-panasan, karena takut mereka kelelahan, daya tahan tubuhnya menurun, hingga berujung drop atau sakit.
Keseimbangan dan kepercayaan yang diberikan lewat metode ini diyakini akan semakin memperkuat mental anak untuk berani mandiri tanpa harus kehilangan rasa amannya.
Selain memberikan ruang gerak, kepekaan ibu juga sangat diuji dalam membaca sinyal halus anak.
Belum lagi secara fisik, tubuh anak jauh lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan orang dewasa karena proses penguapan cairan tubuh mereka terjadi lebih cepat.
Jadi, ketika si kecil mendadak rewel, lesu, atau mudah marah di tengah serunya bermain, jangan cepat melabeli mereka nakal. Perubahan sikap dadakan ini sebenarnya adalah cara mereka meminta bantuan (co regulation) sekaligus alarm awal bahwa tubuh mereka mulai dehidrasi.
Tanda rewel ini sering muncul mendahului gejala fisik lainnya yang lebih jelas, seperti bibir kering, wajah yang terasa hangat, atau jarang buang air kecil.
Saat alarm tubuh ini menyala, tugas ibu bukanlah langsung menyuruh anak berhenti bermain atau memaksa mereka pulang. Jadilah pendamping yang asyik dengan memfasilitasi masa jeda lewat cara yang imajinatif. Ibu bisa mengajak anak masuk ke area istirahat layaknya sebuah mobil balap yang masuk ke pit stop.
Di titik inilah kehadiran pendamping yang tepat menjadi hal menenangkan bagi para ibu. Kecemasan para ibu sejatinya bukanlah alasan untuk membatasi ruang gerak anak, melainkan sebuah pengingat untuk selalu siap sedia.
"Di momen pit stop tadi, Larutan Cap Kaki Tiga Anak mengambil peran sebagai langkah awal yang terpercaya. Sejak tahun 2013, Cap Kaki Tiga Anak diformulasikan khusus untuk anak dengan rasa buah yang sangat disukai oleh mereka. Saat anak-anak minum dengan senang, panas dalam bisa dicegah, dan momen ini memperkuat bonding orang tua & anak," jelas Jesica.
Sebagai langkah awal yang terpercaya, Cap Kaki Tiga Anak hadir membawa keunggulan formulasi yang aman dan efektif, yaitu:
Gypsum Fibrosum: Efektif menurunkan panas tubuh dan melegakan tenggorokan kering setelah anak aktif bergerak.
Calcitum: Menjaga perut anak tetap nyaman dan tidak terasa perih, sehingga aman dikonsumsi kapan saja.
Ketenangan ekstra bagi para ibu juga hadir melalui jaminan kualitas yang tinggi dan konsisten dari Cap Kaki Tiga Anak.
Selain telah mengantongi sertifikasi BPOM dan Halal, Cap Kaki Tiga Anak telah mendapatkan pengakuan prestisius berupa penghargaan Alochoice dari platform kesehatan terkemuka Alodokter.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.