Jakarta (ANTARA) - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengajak jamaah haji yang telah kembali ke Tanah Air menjadikan kemabruran haji sebagai pendorong perubahan sosial melalui keteladanan, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya di Jakarta, Jumat, mengatakan ibadah haji tidak berhenti pada pencapaian kesalehan individu, tetapi harus melahirkan tanggung jawab untuk membawa perubahan positif di lingkungan sekitar.
"Jika ditarik dari benang merah sejarah, para tokoh bangsa terdahulu sepulang dari tanah suci selalu membawa spirit perubahan. Ibadah haji di masa lalu menjadi katalisator perjuangan kemerdekaan, mencerdaskan bangsa, dan mengikis kolonialisme," kata Dody.
Menurut dia, sejarah menunjukkan para haji yang kembali dari Tanah Suci membawa pemikiran progresif dan menjadi motor pembaruan masyarakat. Semangat tersebut, lanjutnya, perlu dikontekstualisasikan dengan tantangan pembangunan bangsa saat ini.
Dody menjelaskan esensi haji mabrur adalah kemauan dan kemampuan untuk terus berubah ke arah yang lebih baik, baik secara pribadi maupun sosial. Ia mengaitkan makna tersebut dengan semangat hijrah, yakni berpindah dari kondisi yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih baik.
Ia mengatakan jamaah haji yang meraih kemabruran semestinya mampu menjadi teladan dalam kesalehan sosial, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, serta hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
"Haji yang mabrur tidak boleh egois dengan kesalehan individunya saja, melainkan harus turun ke masyarakat, mengajak kepada kebaikan (amar ma'ruf), mencegah kemungkaran (nahi munkar), dan menjadi pelopor solusi atas berbagai problem sosial di sekitarnya," ujarnya.
DPP LDII menilai terdapat tiga peran utama yang dapat dijalankan para haji dalam membangun peradaban bangsa, yakni menjadi pendidik dan penggerak moral yang memberi teladan kejujuran serta integritas, menjadi perekat sosial yang menguatkan toleransi dan mengurangi polarisasi, serta menjadi penggerak ekonomi umat melalui penguatan zakat, infak, sedekah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dody meyakini komitmen ratusan ribu jamaah haji Indonesia setiap tahun untuk melakukan perubahan sosial akan menjadi modal besar dalam membangun Indonesia yang religius, maju, dan berkeadilan.
Pandangan serupa disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Aini sekaligus anggota Majelis Pakar DPP LDII KH Aceng Karimullah. Menurut dia, ibadah haji pada awal abad ke-20 menjadi ruang pertemuan umat Islam dari berbagai negara yang turut melahirkan gagasan perjuangan dan pembaruan.
"Maka orang-orang yang punya minat yang sama akan bertemu saat haji, termasuk orang-orang yang memiliki minat politik (memperjuangkan nasib umat Islam). Mereka akan mencari teman diskusi di sana," kata KH Aceng.
Ia menambahkan pemerintah kolonial Belanda bahkan memberikan perhatian khusus kepada para haji yang pulang ke Indonesia karena sebagian dari mereka membawa semangat perjuangan yang lebih kuat.
KH Aceng juga mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa ciri haji mabrur tercermin dari tutur kata yang santun dan gemar memberi makan. Menurutnya, pesan tersebut menunjukkan bahwa kemabruran haji harus diwujudkan melalui meningkatnya solidaritas sosial, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Ia menambahkan para ulama juga memaknai haji mabrur sebagai kondisi ketika seseorang menjadi lebih berhati-hati terhadap hal yang haram maupun syubhat, lebih sederhana dalam urusan dunia, serta semakin bersemangat menjalankan amal untuk kehidupan akhirat.
Selain ibadah haji, KH Aceng menilai seluruh rukun Islam memiliki dampak dalam membentuk karakter dan memajukan masyarakat. Salat, kata dia, membentuk akhlak yang lebih baik, sedangkan puasa melatih kesabaran dan menjauhkan seseorang dari perbuatan yang dilarang agama.
Pewarta: M Fikri SetiawanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.