Depok (ANTARA) - Tim pengabdian dan pemberdayaan masyarakat Program Studi Administrasi Rumah Sakit Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) menggelar pelatihan peningkatan kompetensi personal development skills bagi tenaga administrasi BPJS Rumah Sakit BSH dalam mendukung pelayanan berbasis patient-centered care pada Rabu (24/6).
Ketua tim pengabdi, Dr. Nia Murniati dalam keterangannya, Kamis menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu wujud kontribusi Program Studi Administrasi Rumah Sakit Vokasi UI dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3, yaitu penguatan kualitas pelayanan kesehatan melalui peningkatan kompetensi personal tenaga Administrasi BPJS Rumah Sakit BSH dalam Mendukung Pelayanan Berbasis Patient-Centered Care.
Nia menambahkan bahwa kualitas pelayanan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga oleh kemampuan tenaga administrasi dalam berkomunikasi, mengelola keluhan, serta menampilkan sikap profesional yang menenangkan pasien dan keluarganya.
Sebanyak 40 peserta yang terdiri atas tenaga kesehatan dan administrasi Rumah Sakit BSH hadir mengikuti kegiatan tersebut.
Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, khususnya dalam aspek pelayanan prima, komunikasi dengan pasien, penanganan komplain, penampilan profesional, serta pengembangan rasa percaya diri dalam memberikan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan pasien.
Tim pengabdi beranggotakan para dosen Program Studi Administrasi Rumah Sakit Vokasi UI, yaitu Ari Nurfikri, SKM., MMR.; Supriadi, SKM., MARS.; Nur Fadilah Dewi, SKM., MKM.; dan Elsa Roselina, SKp., MKM.
Materi pertama yang berjudul From Complaint to Care: Mengubah Keluhan Menjadi Kesempatan Pelayanan Prima dibawakan oleh dosen Program Studi Administrasi Rumah Sakit, Astrid Trishanty Putri.
Pada sesi ini peserta diajak memahami pentingnya mengelola emosi dan menjaga sikap profesional ketika menghadapi keluhan, serta memandang komplain sebagai kesempatan untuk memahami kebutuhan pasien sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan.
Untuk memperkuat pemahaman, sesi pertama dilengkapi dengan kegiatan roleplay yang melibatkan sembilan kelompok peserta. Lima di antaranya menampilkan simulasi penanganan komplain di hadapan seluruh peserta, mulai dari keluhan terkait waktu tunggu hingga berbagai bentuk ketidakpuasan lain.
Peserta dari kelompok lain turut memberikan masukan dan alternatif penyelesaian sehingga tercipta diskusi yang aktif dan konstruktif.
Materi kedua yang berjudul Healthcare Presence Excellence: Menampilkan Profesionalisme yang Menenangkan dan Meyakinkan berfokus pada pentingnya membangun kesan profesional melalui penampilan, bahasa tubuh, komunikasi, dan rasa percaya diri. Peserta diajak memahami bahwa kepercayaan pasien dibangun tidak hanya melalui kompetensi teknis, tetapi juga melalui cara tenaga kesehatan menampilkan diri saat berinteraksi dengan pasien.
Sebagai penutup materi kedua, peserta mengikuti praktik yang dikemas dalam bentuk catwalk atau fashion show sederhana untuk melatih keberanian dan meningkatkan rasa percaya diri. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi beauty class yang didukung oleh Sariayu, di mana peserta memperoleh edukasi mengenai perawatan diri dan teknik tata rias dasar yang dapat diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Ketua Program Studi sekaligus anggota pengabdi, Ari Nurfikri, berharap ilmu dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam pelayanan sehari-hari. “Kami berharap pelatihan ini mampu mendorong tenaga administrasi memberikan pelayanan yang lebih optimal, profesional, dan berpusat pada kebutuhan pasien,” ujar Ari.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.