Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan bantuan sarana laboratorium IPA kepada 100 SMA terpilih guna memperkuat budaya sains, keterampilan eksperimen, dan pembelajaran berbasis praktik di sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat pada Rabu mengatakan bantuan sarana laboratorium IPA tidak semata-mata dipandang sebagai dukungan penyediaan fasilitas fisik, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong peserta didik memahami, menguji, dan menggunakan pengetahuan secara kritis.
Menurutnya, laboratorium memiliki peran strategis dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual.
“Sekolah tanpa laboratorium tidak punya makna pembelajaran. Dia hanya sekolah, hanya schooling, bukan learning. Bantuan ini sebenarnya upaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran anak-anak kita,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan, laboratorium merupakan ruang penting untuk menumbuhkan literasi sains, yakni kemampuan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar.
Di tengah derasnya informasi yang diterima anak-anak saat ini, Fajar menilai kemampuan tersebut menjadi semakin penting agar peserta didik tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahami dan menggunakannya secara tepat.
“Literasi sains itu dipahami ketika anak mampu menggunakan informasi atau pengetahuan yang dia miliki untuk melihat fenomena yang terjadi di lingkungannya. Bukan sekadar dia mengerti, tetapi dia tahu bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk melihat fenomena yang berkembang tadi,” katanya.
Lebih lanjut, Fajar juga menilai praktik di laboratorium sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning) yang saat ini didorong Kemendikdasmen.
Melalui kegiatan praktikum, peserta didik tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga menguji dan membuktikan konsep-konsep tersebut secara langsung.
“Praktikum di laboratorium dan proses bekerja sains di laboratorium itu mencerminkan praktik pembelajaran mendalam. Ketika di kelas anak diberi teori, di laboratorium anak diminta untuk menguji teori,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh satuan pendidikan penerima bantuan untuk menjadikan laboratorium sebagai ruang pembentukan budaya berpikir ilmiah, rasa ingin tahu, dan keberanian bertanya.
Menurutnya, peserta didik perlu didorong untuk mengalami sendiri proses memperoleh pengetahuan sehingga tidak hanya menjadi konsumen informasi.
“Yang harus kita bangun adalah budaya berpikir ilmiah. Murid kita tidak hanya menjadi konsumen teori atau konsumen informasi. Dia harus didorong untuk bisa mengalami pengetahuan itu. Jadi kata kuncinya, pengetahuan itu harus dialami, bukan hanya diketahui,” tegas Fajar.
Baca juga: Kemendikdasmen hadirkan inovasi penanaman karakter Hebar melalui aplikasi
Baca juga: Kemendikdasmen gandeng McGill University Kanada latih kompetensi guru
Pewarta: Hana Dewi Kinarina KabanEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.