Manokwari (ANTARA) - Kajian ilmiah mencatat populasi hiu berjalan endemik Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti)  Pulau Gam, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, memiliki kepadatan tertinggi di seluruh dunia, sekaligus mendorong perlindungan terumbu karang sebagai habitat utama spesies tersebut.

Lead Conservation Scientist Elasmobranch Institute Indonesia Edy Setyawan dalam keterangan tertulis yang diterima di Manokwari, Papua Barat, Rabu, mengatakan penelitian selama 14 bulan yang dipublikasikan melalui jurnal internasional menemukan kepadatan hiu berjalan mencapai 2.462 individu per kilometer persegi.

"Sifat hiu berjalan sangat terikat dengan habitat pesisir dan laut dangkal, sehingga sangat rentan terhadap gangguan lokal, seperti pembangunan pesisir dan polusi. Data ilmiah yang kami kumpulkan jadi fondasi untuk memastikan upaya perlindungan benar-benar efektif," katanya.

Ia menjelaskan hasil penelitian itu menjadi studi komprehensif pertama yang mengungkapkan biologi, struktur demografi, serta ekologi spasial hiu berjalan sejak Pemerintah Indonesia menetapkan perlindungan penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2023.

Baca juga: Spesies hiu berjalan menarik minat wisatawan pecinta selam

Sepanjang Februari 2024 hingga April 2025, peneliti mengidentifikasi 736 individu unik dari 1.191 penampakan selama 64 malam survei pada enam lokasi dengan konsentrasi populasi terbesar di sekitar Pulau Arborek, Gam, Fam, Mansuar, dan Batanta

“Dari total individu yang teridentifikasi, populasi betina mendominasi dengan rasio 1,29:1 sedangkan ukuran tubuh hiu tercatat berkisar antara 19,4 sentimeter hingga 75 sentimeter,” ujarnya.



Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026