Jakarta (ANTARA) - Dua tim yang dalam dua laga pertamanya pada Piala Dunia 2026 selalu memasang garis pertahanan rendah atau low block ini akan menjalani laga hidup-mati penuh energi demi menyelamatkan nasib mereka di panggung sepak bola terbesar dunia tersebut.

Baik Bosnia maupun Qatar hanya bisa memetik satu poin dari dua laga terdahulu melawan Kanada dan Swiss setelah masing-masing kalah satu kali dan seri satu kali.

Kecuali jika kekalahan telak mereka pada laga kedua masih mempengaruhi mental mereka, kedua tim berpeluang menampilkan permainan yang lebih terbuka dibanding biasanya.

Hasil imbang hanya akan membuat keduanya angkat koper lebih cepat, sekaligus mengubur harapan untuk lolos melalui jalur peringkat ketiga terbaik.

Mereka sama-sama membutuhkan kemenangan. Namun, dengan segala hormat kepada Qatar, Bosnia yang takluk 1-4 dari Swiss pada laga keduanya memiliki modal yang lebih meyakinkan untuk memenangkan pertandingan ini dibandingkan Qatar, yang pada laga terakhir dibantai Kanada dengan skor 0-6.

Kedua tim sama-sama gemar bertahan rapat di belakang dan menunggu lawan untuk melancarkan serangan balik. Taktik itu membuat mereka sukses di kesempatan pertama, tapi gagal total di kesempatan kedua.

Bosnia memiliki catatan lebih baik, bukan saja dari statistik yang mengesankan selama beberapa pertandingan terakhir, tapi juga dalam seberapa besar menguasai bola dan seberapa kuat menembus pertahanan lawan.

Jika Bosnia memiliki rata-rata penguasaan bola 38 persen dari dua pertandingan sebelumnya, maka Qatar cuma bisa 27,5 persen.

Bosnia juga lebih berani dan lebih agresif dalam menembus jantung pertahanan lawan.

Bosnia memiliki rata-rata masuk ke sepertiga terakhir permainan sebanyak 32,5 kali, sedangkan Qatar hanya 15,5 kali, bahkan hanya sembilan kali melakukannya kala menghadapi tuan rumah Kanada.

Akibat permainan yang menekankan pertahanan itu, kedua tim malah membuka diri untuk diserang lawan dalam frekuensi yang menunjukkan perbedaan kelas antara mereka dengan Kanada dan Swiss.

Jika Swiss dan Kanada membuat total 142 agresi ke sepertiga pertama lapangan Bosnia, maka kedua negara itu meningkatkan catatan itu menjadi 172 kali sewaktu menghadapi Qatar.

Peluang gol yang dibuat kedua tim itu pun tergolong rendah. Bosnia hanya mampu menghasilkan 13 peluang, termasuk enam peluang emas, sementara Qatar mencatatkan delapan peluang dengan tiga di antaranya mengarah tepat ke gawang.

Qatar bahkan hanya bisa membuat dua peluang yang tak satu pun on target, sewaktu bermain dengan sembilan pemain kala dibantai Kanada 0-6.

 

Lebih agresif

Berdasarkan catatan-catatan yang sedikit lebih baik itu, Bosnia lebih berkesempatan mendampingi Kanada dan Swiss sebagai wakil-wakil Grup B ke fase knockout.

Grup B sangat mungkin mengirimkan tiga wakil ke fase gugur, jika Bosnia atau Qatar memenangkan laga terakhirnya. Tapi jika mereka imbang, jatah fase gugur dari grup ini hanya untuk Kanada dan Swiss.

Bahkan jika Bosnia atau Qatar memenangkan pertandingan ini, Kanada yang kalah atau Swiss yang kalah dalam pertandingan terakhirnya, tetap lolos ke fase gugur, setidaknya dari tiket peringkat ketiga terbaik.

Baik Sergej Barbarez maupun Julen Lopetegui tak akan peduli dengan apa yang sudah dan akan terjadi pada Kanada dan Swiss.

Pelatih Bosnia dan Qatar itu akan sepenuhnya mengerahkan energi dan pikirannya untuk memenangkan laga di Seattle Stadium, Seattle, negara bagian Washington, Amerika Serikat, pada Kamis (24/6) pukul 02.00 WIB ini.

Kemungkinan besar mereka masih menerapkan formula sama seperti mereka gunakan saat menghadapi Kanada dan Swiss.

Selama ini Sergej Barbarez setia memasang formasi diamond 4-4-2 yang menjamin adanya blok pertahanan yang kokoh dan opsi serangan balik yang kuat.

Walau dikenal sebagai tim low block, sistem permainan Bosnia cenderung menghasilkan permainan yang lebih agresif ketimbang Qatar.

Saat melawan Kanada, empat pemain mereka masuk lima pemain dengan poin serangan teratas, berdasarkan statistik FIFA. Mereka adalah Jovo Lovic, Sead Kolosinac, Ermedin Demirovic, dan Esmir Bajraktarevic.

Bosnia juga memiliki gelandang dengan pressing paling tinggi yang sangat merepotkan Swiss dan Kanada, yakni Benjamin Tahirovic.

Gelandang bertahan Brondby di Liga Denmark itu adalah juga penjelajah lapangan paling kuat kala menghadapi Swiss.

Pemain-pemain itu menjadi jaminan Bosnia akan bermain dalam posisi lebih dominan daripada Qatar.

 

Kuncinya di pelatih

Kanada hampir kalah jika tidak karena gol balasan Cyle Larin pada menit ke-78, sedangkan Swiss bisa menang besar setelah Bosnia kehilangan bek tengah andalan, Tarik Muharemovic, akibat terkena kartu merah.

Tiga gol terakhir Swiss ke gawang Bosnia tercipta setelah Muharemovic sudah tak ada lagi di lapangan. Sementara gol pertama Swiss baru hadir setelah selama 74 menit pemain-pemain Bosnia berulang kali membuat tumpul serangan Swiss.

Sebaliknya, gawang Qatar sudah dua kali dijebol Kanada dalam 30 menit pertama ketika skuad Qatar masih lengkap sebelas pemain. Mereka kemasukan lagi empat gol setelah Kanada surplus dua pemain akibat kartu merah untuk dua pemain Qatar.

Ini riwayat pertandingan yang bisa menunjukkan Bosnia memiliki alasan lebih kuat untuk mengalahkan Qatar.

Tapi skenario seburuk itu sepertinya tak akan membuat pelatih Julen Lopetegui mencampakkan formasi striker tunggal yang dilapis tiga gelandang serang dalam pola 4-2-3-1, terutama karena formula ini berhasil meredam Swiss, walau gagal kala melawan Kanada.

Lebih dari itu sepak bola kadang diintervensi oleh keberuntungan, dan Qatar adalah tim yang lebih mengharapkan aspek ini ketimbang Bosnia.

Qatar juga disemangati oleh catatan dari dua pertemuan mereka dengan Bosnia sebelum ini, yang berpihak kepada mereka.

Qatar menang 2-0 atas Bosnia pada Januari 2000, dan kemudian seri 1-1 pada Agustus 2010. Bosnia sendiri, sejak mengalahkan Iran pada 2014, tak pernah bisa mengalahkan tim-tim Asia.

Qatar juga bisa berhasil jika kembali kepada bentuk permainan ketika mereka menahan seri Swiss 1-1.

Saat itu, winger Akram Afif dan striker Yusuf Abdurisag adalah faktor-faktor yang membuat Swiss gagal mendapatkan tiga poin.

Afif memaksa Swiss melakukan 10 kali salah umpan, sementara Abdurisag membuat 43 pressing yang merupakan tertinggi dalam laga itu.

Bagaimana Lopetegui dan Barbarez mengoptimalkan kelebihan pemain-pemainnya, berdasarkan kinerja mereka dalam dua laga sebelumnya, akan menjadi faktor kunci yang menentukan pemenang laga ini. Namun, Bosnia tetap layak ditempatkan sebagai favorit.



Pewarta: Jafar M Sidik
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026