Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia melalui kerja sama antara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University, menyelenggarakan kegiatan Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber yang berlangsung, 21 Juni–3 Juli 2026. 

Dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Bogor, Senin (22/6/2026) kegiatan ini berkolaborasi dengan Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI) dan diikuti oleh 36 perwakilan pemerintah, praktisi dan pemangku kepentingan sektor kehutanan dari 16 negara sehaluan atau Like-Minded Countries (LMCs).

Pada pembukaan pelatihan Rektor IPB University Dr Alim Setiawan Slamet, menyampaikan, Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki hutan terbesar memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan. 

Ia mengatakan, program ini diharapkan menjadi tangible program yang dapat mendukung semua negara dalam mewujudkan resiliensi pengelolaan hutan berkelanjutan. 

“IPB University bangga menjadi bagian dalam program ini. IPB telah lama menanamkan keberlanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Program ini menjadi titik dalam menjalin kolaborasi global”, katanya.

Staf Ahli bidang Sosial, Budaya, dan Pembangunan Manusia Duta Besar Kementerian Luar Negeri Kamapradipta Isnomo yang mewakili Kemlu RI menegaskan bahwa melalui program ini, Indonesia berupaya mendorong pertukaran praktik pertanian berkelanjutan yang relevan dan aplikatif bagi negara-negara mitra. Hal ini sangat relevan di tengah semakin pentingnya diskusi mengenai komoditas berkelanjutan dan perannya dalam rantai pasok global yang berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia melalui kerja sama antara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University, menyelenggarakan kegiatan Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber yang berlangsung, 21 Juni–3 Juli 2026. (Antara/CTSS IPB).

Menurut dia kayu sebagaimana diketahui adalah salah satu komoditas yang menjadi subjek standar global yang semakin kompleks dan ketat. 

"Melalui pelatihan ini, Indonesia ingin memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang dapat mendukung upaya masing-masing negara dalam memperkuat tata kelola kehutanan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memenuhi tuntutan pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan,” ujar Duta Besar Kamapradipta Isnomo.

Sementara itu Direktur Investasi dan Penyaluran Dana LDKPI, Iwan Nur Hidayat menyampaikan bahwa indonesia berkomitmen dalam menjalin kerjasama internasional. 

Kehadiran peserta di Indonesia diharapkan dapat menjadi jembatan dalam meningkatkan peran di tingkat internasional, terutama untuk negara-negara selatan.

Direktur Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences, Prof. Damayanti Buchori mengatakan, program peningkatan kapasitas ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dalam pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Selain itu, katanya, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong pertukaran pengalaman, penguatan jejaring kerja sama, serta pengembangan kolaborasi antarnegara dalam menghadapi tantangan keberlanjutan sektor kehutanan dan perdagangan kayu global.

Prof Damayanti menjelaskan selama pelaksanaan kegiatan, peserta akan mengikuti sesi pembelajaran di Jakarta dan Bogor serta kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan hutan dan industri kayu di Indonesia.

Salah satu materi utama yang akan dibahas adalah implementasi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), yang telah menjadi instrumen nasional dalam menjamin legalitas, ketelusuran, dan keberlanjutan produk kayu Indonesia. Sistem tersebut juga menjadi salah satu referensi penting dalam upaya peningkatan akses pasar produk kayu Indonesia ke pasar internasional.

Melalui kegiatan ini, Indonesia berharap dapat memperkuat kemitraan dengan negara-negara berkembang, meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan sektor kehutanan, serta mendorong lahirnya berbagai inisiatif kolaboratif dalam pengelolaan komoditas kayu yang legal, lestari, dan berdaya saing. 

Hasil diskusi dan rekomendasi yang dihasilkan selama kegiatan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kerja sama lebih lanjut dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di sektor kehutanan.



Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026