Depok (ANTARA) - Ketua Caraka Youth Initiatives (CYI) Universitas Indonesia (UI), Assoc. Prof. Hendra Kaprisma, menegaskan bahwa penanganan perubahan iklim membutuhkan kolaborasi lintas negara.

Menurut dia di Depok, Sabtu, langkah tersebut membutuhkan kolaborasi lintas budaya dan lintas disiplin ilmu guna merumuskan solusi global yang komprehensif.

“Forum internasional memiliki peran penting dalam membangun pemahaman dan jejaring kolaborasi. Karena itu, International Youth Climate Forum (IYCF) dirancang sebagai ruang belajar yang memungkinkan peserta menghubungkan teori dengan praktik sekaligus berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Sebanyak 177 pemuda dari 14 negara berpartisipasi dalam International Youth Climate Forum (IYCF) 2026 yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI) pada 10–11 Juni 2026.

Mengusung tema “Empowering Generations, Preserving the Future”, forum ini menjadi ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk memperkuat peran mereka dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Peserta forum ini berasal dari berbagai negara, di antaranya Pakistan, Gambia, India, Myanmar, Iran, Sierra Leone, Nigeria, Sri Lanka, Sudan, Bangladesh, Afghanistan, Aljazair, Tanzania, serta Indonesia.

Dari total 177 pendaftar internasional, sebanyak 66 peserta terpilih untuk mengikuti program secara penuh. Mereka bergabung bersama mahasiswa dan akademisi UI untuk membangun jejaring global sekaligus mencari solusi terhadap tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Berbeda dari forum akademik pada umumnya, IYCF 2026 tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran gagasan. Pada hari kedua pelaksanaan, peserta terlibat langsung dalam Community Engagement Program di Desa Cidahu, Kabupaten Sukabumi.

Kehadiran peserta dari berbagai negara turut menghadirkan pengalaman lintas budaya yang memperluas wawasan mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama masyarakat global.

Menurutnya keterlibatan langsung pemuda dalam kegiatan berbasis komunitas memberikan pengalaman yang memperkaya perspektif global mengenai keberlanjutan.

“Ketika peserta dari berbagai latar belakang budaya bekerja bersama, mereka belajar bahwa isu lingkungan dan kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Pengalaman ini membangun empati, memperkuat kapasitas kepemimpinan, dan mendorong lahirnya kolaborasi yang dapat menghasilkan dampak jangka panjang bagi masyarakat maupun lingkungan,” kata Hendra.

Melalui IYCF 2026, UI menunjukkan bahwa pendidikan iklim yang efektif tidak berhenti pada ruang diskusi. Ketika pengetahuan dipadukan dengan pengalaman lapangan, lahir pembelajaran yang lebih bermakna dan berdampak.

Dari Depok hingga Cidahu, para peserta membawa pulang lebih dari sekadar gagasan. Mereka membawa pengalaman tentang bagaimana perubahan dapat dimulai dari kolaborasi, diterjemahkan menjadi aksi, dan tumbuh menjadi gerakan yang melampaui batas negara.

Program ini sejalan dengan berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak.

Selain itu, inisiatif tersebut juga mendukung pencapaian SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.



Pewarta: Feru Lantara
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026