Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menekankan pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) harus menerapkan prinsip ethics by design atau etika yang diterapkan sejak tahap awal perancangan.

Konsep ethics by design berarti prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, dan keamanan harus diterapkan dalam adopsi teknologi AI.

"Saya kira sudah saatnya para pengembang AI dan juga komunitas yang mengadopsi AI tidak lagi hanya bicara soal prinsip-prinsip yang diikuti secara sukarela. Sekarang secara global ada pergeseran yang kita sebut sebagai ethical drift, di mana prinsip-prinsip itu harus dihadirkan sebagai bukti-bukti," kata Nezar dalam acara Indonesia Ethical AI Summit 2026 di Jakarta, Rabu.

Nezar mengatakan perkembangan AI saat ini menunjukkan adanya pergeseran global dari sekadar penerapan prinsip etika secara sukarela menuju tuntutan pembuktian bahwa prinsip-prinsip tersebut benar-benar diterapkan dalam produk dan layanan AI.

Baca juga: Wamen Komdigi tegaskan perlindungan data masyarakat di tengah perkembangan AI
Baca juga: Model AI berbudaya lokal dinilai jadi kekuatan teknologi RI bidang teknologi

Menurutnya, kebutuhan penerapan etika sejak tahap perancangan menjadi semakin penting seiring berkembangnya teknologi agentic AI, yakni sistem AI yang dapat menjalankan tugas secara mandiri.

Ia mencontohkan penggunaan agentic AI pada layanan keuangan dan pemesanan tiket, di mana sistem AI dapat berinteraksi dengan AI lain untuk menyelesaikan berbagai proses tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Dalam kondisi tersebut, kata dia, aspek delegasi kewenangan dan akuntabilitas harus dirancang secara jelas untuk mengantisipasi munculnya perilaku yang tidak diinginkan.

Nezar mencontohkan simulasi penggunaan agentic AI yang pernah dilakukan di Kanada untuk menangani penumpang pesawat yang terdampak pembatalan atau penundaan penerbangan akibat cuaca buruk.

Baca juga: Nezar dorong kerja sama platform dan penerbit soal hak cipta konten AI

Dalam simulasi tersebut, sistem AI mampu mempercepat proses pemindahan penumpang dari yang sebelumnya membutuhkan waktu delapan hingga sepuluh jam menjadi kurang dari dua jam. Namun, pada salah satu simulasi sekitar 1.200 penumpang ditempatkan pada penerbangan yang salah.

Oleh karena itu, Nezar mengatakan pendekatan ethics by design perlu diterapkan melalui konsep shifting left, yaitu memastikan seluruh aspek tata kelola dan mitigasi risiko telah diterapkan sejak tahap awal perancangan AI.

"Jadi shifting left berarti kita mau mengecek kembali dari awal. Dari awal harus dipastikan bahwa, semua regulasi-regulasi mengenai etis, yang mengatur artificial intelligence (AI) itu harus diadopsi oleh pengembang AI atau mereka yang mengadopsi teknologi AI," katanya.



Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026