Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perumda Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memperketat pengawasan digital sebagai upaya deteksi dini terhadap potensi gangguan akibat terjadi kerusakan pada jaringan pipa bawah tanah.
"Karena kenyamanan masyarakat maupun pelanggan dalam mengakses air bersih sangat bergantung pada kondisi jaringan pipa bawah tanah," kata Kepala Bagian Bagian Pengendalian Kehilangan Air (PKA) Perumda Tirta Bhagasasi Hendry di Cikarang, Senin.
Dia mengatakan pengetatan pengawasan tersebut dilakukan melalui sistem 'District Meter Area' (DMA) guna mengantisipasi gangguan pasokan akibat pipa pecah yang kerap tidak terlihat.
Baca juga: Taat SOP kunci sukses program utama Perumda Tirta Bhagasasi
Langkah itu diterapkan untuk mempercepat penanganan keluhan warga terkait penurunan debit air. Melalui sistem DMA, area pencarian titik kerusakan di bawah tanah dapat dipersempit sehingga proses perbaikan oleh tim teknis berjalan lebih cepat dan sigap.
"Kami menerapkan sistem DMA supaya memperkecil zona dalam pencarian kebocoran pipa di bawah tanah. Jadi akan lebih mudah karena zona pencarian dipersempit," katanya.
Menurut dia, kejadian pipa bocor sering kali baru disadari masyarakat ketika tekanan air mengecil atau bahkan mati total. Dengan teknologi ini, petugas dapat memprediksi potensi gangguan lebih awal sebelum berdampak meluas ke rumah pelanggan.
Sistem tersebut bekerja dengan cara memantau volume air secara real time. Petugas membandingkan antara pasokan air yang keluar dari water meter induk di Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan total penggunaan pada meter pelanggan, lanjutnya.
Baca juga: Pembaca meter dan validator ujung tombak pendapatan Tirta Bhagasasi Bekasi
Baca juga: Tirta Bhagasasi perluas cakupan pelanggan guna penuhi kebutuhan air bersih
Selisih angka yang besar menjadi sinyal adanya kehilangan air akibat kebocoran di jaringan pipa. Meski efektif meningkatkan pelayanan, modernisasi jaringan ini masih dilakukan secara bertahap karena membutuhkan biaya besar.
"Sejauh ini penerapan sistem DMA cukup efektif mendeteksi kebocoran air. Namun, belum semua wilayah layanan telah dibangun DMA, karena persoalan anggaran yang besar. Water meter yang digunakan merupakan water meter elektromagnetik yang harganya sangat mahal," ujar dia.
Selain pemantauan digital pada jaringan pipa utama, perlindungan terhadap hak konsumen juga dilakukan secara administratif. Tim PKA menelusuri potensi kebocoran di area pelanggan dengan membandingkan grafik pemakaian air bersih dan nominal tagihan berkala.
"Langkah ini penting agar pelanggan tidak dirugikan akibat lonjakan tagihan yang disebabkan kebocoran yang tidak disadari," katanya.
Saat melakukan penyisiran ke permukiman, petugas juga dibekali alat penguji akurasi meteran serta leak detector untuk mendeteksi kebocoran tanpa harus merusak fasilitas umum maupun jalan lingkungan.
"Dari data yang kami analisa tersebut setiap bulan, dapat juga diketahui apakah terjadi kebocoran air atau tidak," katanya.
Pewarta: Pradita Kurniawan SyahUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.