Jakarta (ANTARA) - Menanggapi kejadian tragis di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026), sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang, saya belajar bahwa setiap peristiwa selalu memiliki dua sisi. Tujuannya bukan untuk menentukan siapa yang benar, melainkan untuk memahami suatu kejadian secara utuh.

Dalam Modul 4 mata kuliah Teori Komunikasi tentang Proses Persepsi dalam Komunikasi Intrapersonal, dijelaskan bahwa persepsi merupakan pengalaman individu terhadap objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh melalui proses penyimpulan informasi dan penafsiran pesan.

Kejadian tragis di Stasiun Bekasi Timur tentu mengundang banyak reaksi publik. Sebagian besar perhatian tertuju pada sikap sopir taksi yang dinilai terkesan santai karena terlihat merokok setelah peristiwa tersebut terjadi. Namun, menurut saya, dalam konteks kejadian itu, bisa saja sopir berada dalam kondisi mental yang terguncang dan tertekan.

Jika ia terbiasa menggunakan rokok sebagai cara untuk menenangkan diri, maka tindakan tersebut dapat dipahami sebagai upayanya mengelola stres dalam situasi yang penuh tekanan. Meski demikian, pemahaman ini tidak berarti membenarkan atau mengabaikan dampak dari kejadian tragis tersebut.

Penting bagi masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa sopir merupakan penyebab utama dalam peristiwa tersebut. Perlu diketahui bahwa sopir taksi tersebut baru bekerja selama dua hari dan masih berada dalam tahap penyesuaian kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak sepenuhnya berada pada individu, melainkan juga melibatkan sistem kerja yang ada.

Dalam praktiknya, sopir menjalankan tugas berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan perusahaan. Apabila dalam situasi krisis terjadi keterlambatan respons atau kurangnya pendampingan dari pihak manajemen, maka tanggung jawab juga perlu ditinjau dari sisi perusahaan.

Selain itu, tidak adanya permintaan maaf dalam klarifikasi yang disampaikan pihak manajemen dapat menimbulkan kesan kurangnya empati terhadap korban maupun sopir yang terlibat. Publik tentu berhak mempertanyakan komitmen perusahaan terhadap aspek keselamatan, profesionalisme, dan perlindungan pekerja.

Oleh karena itu, tanggung jawab atas peristiwa ini tidak seharusnya dibebankan kepada satu pihak saja. Evaluasi yang menyeluruh perlu dilakukan, baik terhadap individu yang terlibat maupun sistem manajemen dan pengawasan perusahaan, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.


*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026