Kuala Lumpur (ANTARA) - Buku-buku tentang hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara serumpun, yang ditulis dengan kajian sejarah dan data-data akademik, mungkin banyak dan cukup mudah dijumpai di toko-toko buku, baik di tanah air maupun di negeri jiran.
Sebagian besar karya tersebut umumnya menyoroti hubungan dua negara dari aspek politik, sejarah, diplomasi, atau kerja sama bilateral.
Namun buku antologi berjudul "Malaysia-Indonesia: Narasi-Narasi Lintas Budaya dan Negara" menawarkan sebuah sudut pandang yang berbeda.
Buku setebal 232 halaman ini menggambarkan hubungan dua negara serumpun dari perspektif akar rumput, orang-orang biasa, duta-duta kecil dua negara, yang ketika kita membaca kisah-kisahnya bak mendengarkan langsung penuturan rekan sejawat saat sedang bersantai di kedai kopi.
Bukunya merupakan kumpulan tulisan dari pengalaman yang dialami dan dirasakan oleh 15 orang penulisnya, yang terdiri atas orang Indonesia dan Malaysia.
Para penulisnya antara lain orang-orang yang pernah mengambil studi di universitas kedua negara, dosen, seniman, musisi, pelancong, hingga eks pekerja kilang.
Mereka adalah Tiyas Maulita, Azmil Tayeb, Anitha Silvia, Azmyl Yunor, Budiawan, Sharifah Nursyahidah Syed Annuar, Katrin Bandel, Jefry Musa, Putri Silaturrahmi, Ahmad Naziruddin Zakaria, Raihana Mahmud, Muhamad Hanapi B Jamaludin, Rita Audriyanti, Muhammad Febriansyah, Haris Zuan.
Meskipun keseluruhan isi buku ditulis dalam bahasa Melayu Malaysia, buku yang diterbitkan Strategic Information and Research Development Centre (RSID) dengan dukungan Kementerian Komunikasi dan Multimedia Malaysia, MyCreative Ventures dan Pelan Jana Semua Ekonomi Negara (penjana) ini mudah dipahami oleh pembaca Indonesia.
Cerita-cerita yang disampaikan tidak mendikte pembaca untuk meyakini atau mengubah persepsi. Seperti tanpa tedeng aling-aling, pengalaman demi pengalaman ditulis apa adanya secara gamblang dengan segala subyektivitas para penulisnya.
Uniknya penuturan yang subjektif dan apa adanya itu tetap mencerminkan kuatnya persahabatan dua negara. Buku ini membuktikan bahwa hubungan dua bangsa serumpun di benak akar rumput, bertolak jauh dari riak-riak perseteruan yang seringkali tampak digembar-gemborkan di permukaan media sosial.
Memotret Indonesia-Malaysia
Begitu banyak cerita menarik yang menggambarkan realitas nyata antara hubungan Indonesia-Malaysia, yang disampaikan para penulis dalam buku ini.
Salah satunya cerita yang disampaikan Tiyas Maulita, dengan judul "Negeri Harapan Bernama Malaysia".
Tiyas adalah seorang warga negara Indonesia (WNI) kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah.
Dalam kisahnya, Tiyas menceritakan awal perjalanannya ke Malaysia melalui jalur darat, udara, dan laut. Dari Jawa Tengah ia bertolak ke Jakarta, lalu menuju Batam, hingga berlabuh ke Johor Bahru, Malaysia.
Perjalanan Tiyas awalnya untuk mengadu nasib sebagai pekerja kilang di Johor. Tetapi dalam perjalanannya ia mendaftar dan diterima berkuliah di Universitas Terbuka Kuala Lumpur (UTKL).
Beragam "petualangan" selama bekerja dan menuntut ilmu di negeri harapan itu dengan antusias Tiyas tuturkan kepada pembaca.
Aspek akulturasi budaya, saling memahami dan empati dapat tergambar jelas dalam kisah yang disampaikan Tiyas.
Cerita lain yang tidak kalah menarik dituliskan Azmyl Yunor, dengan judul "Anak Seberang".
Azmyl seorang seniman musik underground asal Malaysia. Karena profesinya itu, ia sering juga pulang pergi Malaysia-Indonesia, mulai sekadar untuk menghadiri undangan diskusi musik, hingga pernah diundang tampil di sebuah acara stasiun televisi swasta Indonesia yang dibawakan komedian ternama Tukul Arwana.
Sebagai seorang musisi folk dan balada, Azmyl kerap dijuluki Bob Dylan dari Malaysia. Ibunya berasal dari Negeri Sembilan, sebuah negara bagian di Malaysia yang memiliki kaitan budaya erat dengan suku Minangkabau, Sumatera Barat.
Sedangkan ayahnya asal Batu Pahat, Johor, masih memiliki keturunan darah Jawa dan Bugis.
Seiring intensitas perjalanannya ke Indonesia, Azmyl mengaku jadi mengagumi lagu-lagu yang dibuat musisi kawakan Indonesia, seperti Gombloh dan Iwan Fals.
Dalam kisahnya dia menyampaikan pandangan tentang mengapa musisi Malaysia sulit menulis lirik kritik seperti lirik-lirik lagu yang dibuat Iwan Fals, hingga menuturkan perenungannya tentang budaya hijrah nenek moyangnya dari Indonesia ke Malaysia di masa lalu.
Fakta-fakta kedekatan emosional Azmyl dengan Indonesia, serta profesinya sebagai seniman, lebih kurangnya memberikan sudut pandang yang unik dalam buku antologi ini.
Cinta antara Indonesia-Malaysia
Cerita demi cerita yang disampaikan para penulis membuka mata pembaca tentang seperti apa sejatinya orang-orang Malaysia dan Indonesia, serta bagaimana hubungan erat keduanya.
Ahmad Naziruddin Zakaria, seorang warga negara Malaysia, melalui tulisan berjudul "Bayang-bayang Malaysia di Indonesia" menceritakan pengalaman pribadinya berkunjung ke Semarang, Jawa Tengah, dalam sebuah program pertukaran pelajar, yang kemudian mengubah sepenuhnya cara pandang dirinya terhadap orang-orang Indonesia.
Slogan "pengalaman adalah guru terbaik" agaknya begitu kuat dirasakan Naziruddin. Berkat kunjungannya selama empat bulan di Indonesia dalam program pertukaran pelajar itu, ia melihat, mendengar dan mengetahui sendiri seperti apa ramahnya orang-orang Indonesia.
Pengalaman singkat itu bahkan membuat Naziruddin jatuh cinta dengan Indonesia hingga mendorongnya melontarkan janji untuk kembali ke tanah Zamrud Khatulistiwa.
Ada juga ulasan Muhammad Febriansyah asal Indonesia yang menjadi dosen di Universiti Sains Malaya, tentang mengapa orang Malaysia kerap menyebut Indonesia dengan singkatan kata "Indon", sebuah sebutan yang seringkali membuat panas telinga orang Indonesia. Tapi kenyataannya maksud dan persepsinya jauh panggang dari pada api.
Sementara kisah cinta bersatunya dua insan jiran, adalah kisah yang disampaikan Raihana Mahmud, wanita asal Aceh yang berjodoh dengan seorang warga Malaysia asal Perak.
Dalam tulisannya, Raihana bercerita pengalamannya beradaptasi di Negeri Jiran hingga mengalami beberapa peristiwa "kejutan budaya", karena adanya beberapa kebiasaan berbeda antara tanah kelahiran dengan tempat tinggal baru.
Urusan kuliner juga menjadi bahan pembahasan tersendiri, seperti pengalaman Raihana mencicipi kari kepala ikan Malaysia yang cita rasanya sedikit berbeda dengan apa yang biasa disantap di Indonesia, hingga keputusannya menyukai tempoyak Malaysia.
Seluruh pengalaman Raihana membawa kesimpulan baginya bahwa setiap perbedaan yang mengemuka hendaknya tidak menghalangi keakraban dan kehangatan persahabatan kedua bangsa, justru sebaliknya menjadi modal besar bagi Indonesia dan Malaysia untuk menjadi kekuatan raksasa di Asia.
Buku "Malaysia-Indonesia: Narasi-Narasi Lintas Budaya dan Negara" disunting oleh Muhammad Febriyansyah dan Haris Zuan.
Buku dibuka dengan kata pengantar akademisi Malaysia Farish A. Noor yang menggambarkan lanskap sejarah hubungan dua negara secara umum, yang dapat menjadi fondasi atau dasar dalam memahami setiap cerita para penulis secara utuh.
Buku dengan narasi-narasi yang memperkukuh persaudaraan dua bangsa ini layak menjadi salah satu pilihan bacaan yang menarik, dan seperti telah disampaikan di awal, membacanya bak mendengar cerita rekan sejawat di kedai kopi.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.