Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat menyiapkan para generasi muda menjadi pengawas partisipatif pada pemilihan umum 2029 melalui kegiatan pendidikan khusus diikuti perwakilan pelajar SMA-SMK yang tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Ketua Bawaslu Kabupaten Bekasi Akbar Khadafi mengatakan program pendidikan pengawas partisipatif bertujuan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pemilu melalui pengembangan kapasitas pengawas partisipatif secara berkelanjutan.
"Program ini untuk membentuk para siswa sebagai pengawas partisipatif di masyarakat agar dapat bergerak secara efektif dalam mengawal proses demokrasi," katanya di Cikarang, Jumat.
Dia menjelaskan kegiatan pendidikan pengawas partisipatif ini diisi dengan pemberian sejumlah materi edukatif dengan memanfaatkan learning management system melalui google classroom sebagai media pembelajaran yang lebih efektif serta mudah diakses.
Materi yang diberikan meliputi pencegahan pelanggaran dan sengketa proses pemilu, pelaporan dugaan pelanggaran, pengembangan pengawasan partisipatif berbasis komunitas dan digital, penguatan jejaring pengawasan hingga pemberdayaan masyarakat.
"Hasil yang diharapkan dalam jangka panjang adalah peserta mampu menjadi pengawas partisipatif dan mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi setiap tahapan pemilu," ujarnya.
Akbar mengaku pelajar menjadi sasaran utama program mengingat mereka telah memasuki usia pemilih saat pemilu 2029 berlangsung. Pihaknya ingin membangun kesadaran politik sejak dini agar generasi muda tidak hanya menjadi pemilih cerdas tetapi juga berperan aktif menjaga kualitas demokrasi.
"Kami fokus kepada pelajar karena pada 2029 mereka akan menjadi pemilih pemula. Pada Pemilu 2024 sekitar 60 persen pemilih berasal dari kalangan milenial dan Generasi Z sehingga kelompok ini menjadi kekuatan dominan dalam proses demokrasi," katanya.
Plt. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bekasi Asep Buchori menegaskan pengawasan pemilu bukan hanya menjadi tanggung jawab Bawaslu melainkan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda untuk turut mengawal proses demokrasi.
Asep menekankan penting literasi digital agar pemuda mampu memilah informasi sekaligus mengenali berita bohong. Terlebih Kabupaten Bekasi memiliki daftar pemilih tetap 2,3 juta jiwa dengan karakteristik masyarakat beragam sehingga memiliki potensi kerawanan baik praktik politik uang maupun identitas.
"Kompleksitas wilayah menuntut peran aktif masyarakat secara lebih luas dalam pengawasan. Karena itu peserta program ini harus dapat menjadi contoh di lingkungan masing-masing dan menjadi agen pendidikan demokrasi bagi masyarakat," katanya.
Pemerintah daerah memastikan kesiapan untuk berkolaborasi dengan Bawaslu dalam menyiapkan kader-kader pengawas partisipatif di seluruh wilayah kecamatan guna membantu tugas pengawasan pemilu sekaligus meningkatkan partisipasi pemilih, khususnya pemula.
"Bawaslu sedang menyiapkan para siswa ini menjadi garda terdepan pengawasan, baik nanti di kampus, tempat kerja maupun lingkungan masyarakat. Dengan begitu pola pengawasan akan semakin efektif serta mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat," kata dia.
Pewarta: Pradita Kurniawan SyahEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.