Depok (ANTARA) - Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia Prof. Sisilia Setiawati Halimi menekankan pentingnya membangun strategi internasionalisasi perguruan tinggi, yang berakar pada identitas, kekuatan, dan kontribusi khas perguruan tinggi Indonesia.

"Internasionalisasi pendidikan tinggi di Indonesia banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti kebutuhan akan pengakuan international, peningkatan mobilitas mahasiswa dan dosen asing, tuntutan peningkatan pendapatan institusi, serta tekanan dari sistem pemeringkatan global," kata Prof. Sisilia Setiawati di Depok, Kamis.

Padahal, kata dia sebagai negara dengan salah satu sistem pendidikan tinggi terbesar di dunia, Indonesia memiliki karakteristik dan potensi yang unik untuk ditawarkan kepada masyarakat global.

Baca juga: Universitas Indonesia dan SUFE jajaki kemitraan strategis dalam bidang ekonomi dan bisnis
Baca juga: Guru besar FEB UI ungkap pentingnya strategi adaptif agar UMKM mampu bertahan


Ia menjelaskan, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mulai membangun narasi alternatif mengenai keberhasilan internasionalisasi yang tidak hanya diukur melalui capaian pemeringkatan dunia.

Pendekatan ini mendorong perguruan tinggi untuk menonjolkan keunggulan, identitas, dan kontribusi yang relevan dengan kebutuhan global.
“Perguruan tinggi harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: apa yang dapat ditawarkan Indonesia kepada dunia? Daya tarik perguruan tinggi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh posisi dalam pemeringkatan global, tetapi juga kontribusi unik yang dapat diberikan kepada masyarakat internasional,” ujar Prof. Sisilia.

Dalam konteks internasionalisasi, bahasa Inggris menjadi instrumen penting untuk memosisikan perguruan tinggi Indonesia di ruang global. Namun, ia menilai pengembangan program pembelajaran menggunakan bahasa Inggris atau English Medium Instruction (EMI) masih menghadapi berbagai tantangan.

Baca juga: Guru besar UI sebut kuntabilitas keuangan diukur dampaknya ke masyarakat

EMI tidak cukup dipahami sebagai penerjemahan materi ajar ke dalam bahasa Inggris atau sekadar mengandalkan dosen yang memiliki latar belakang pendidikan luar negeri. EMI harus dipandang sebagai praktik pedagogis yang membutuhkan kompetensi bahasa, pedagogi, dan pengetahuan antarbudaya yang memadai, serta didukung sistem pengembangan profesional yang berkelanjutan.

Selain itu, Indonesia perlu mengembangkan program English for Academic Purposes (EAP) yang dirancang khusus untuk mendukung mahasiswa internasional yang akan menempuh studi di Indonesia. Program tersebut harus berbasis riset, relevan dengan kebutuhan akademik, serta memperkenalkan budaya akademik Indonesia melalui pendekatan plurilinguistik.

“Internasionalisasi bukanlah upaya menjadi seperti universitas lain, melainkan kesempatan untuk memperkenalkan jati diri Indonesia kepada dunia. Melalui strategi yang berlandaskan kekuatan dan identitas bangsa, perguruan tinggi Indonesia dapat berperan sebagai sumber pengetahuan, inovasi, dan inspirasi bagi masyarakat global,” ujarnya.

 




Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026