Depok (ANTARA) - Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI) kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian masyarakat melalui program “Aksi Nyata Pengmas FKG UI” di Kampung Ilmu, Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat.
“Program ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat tidak berhenti pada pelayanan medis semata, melainkan harus bertransformasi menjadi gerakan multidisiplin yang berbasis data dan berakar pada kebutuhan riil masyarakat. Lewat sinergi lintas fakultas dan dukungan komunitas, kami ingin memastikan bahwa intervensi stunting dan kesehatan gigi mulut dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus melahirkan model desa binaan yang menjadi percontohan nasional,” ujar Dekan FKG UI Prof. Lisa Rinanda Amir, di Depok, Kamis.
Lima tahun konsistensi di Kampung Ilmu Purwakarta telah melahirkan model percontohan desa binaan baru. Melalui sinergi pentahelix yang adaptif, UI bersama mitra membuktikan bahwa pengabdian masyarakat yang terukur mampu membawa perubahan mendasar bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga: Doktor FKG UI kembangkan minyak nilam untuk terapi penyakit periodontal
Memasuki tahun kelima, agenda ini tidak lagi sekadar menjadi agenda bakti sosial tahunan, melainkan telah berevolusi menjadi panggung inovasi berbasis data dan kolaborasi multidisiplin untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat, dengan turut mengusung misi besar memenuhi target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDGs nomor 2 (Zero Hunger), nomor 3 (Good Health and Well-being), dan nomor 4 (Quality Education).
Dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini, FKG berkoordinasi dengan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS), serta berkolaborasi dengan menggandeng empat fakultas sekaligus: Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom).
Sinergi lintas institusi dan disiplin ilmu ini melahirkan dua program yang akan diejawantahkan: formulasi “Segitiga Intervensi Stunting” dan “Strategi Respons Fluktuasi Penyakit Gigi dan Mulut.”
Baca juga: Mahasiswa FKG UI raih juara 2 pada World Oral Health Day 2026
Data dari Puskesmas Tegalwaru menunjukkan bahwa penyakit gigi dan mulut sempat menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyakit terbanyak pada 2023 dengan 876 kasus. Intervensi intensif FKG.
UI berhasil menekan angka tersebut hingga keluar dari daftar 10 besar pada 2024. Namun, pada 2025 kasus kembali muncul di peringkat ke-8 dengan 463 kasus, yang itu artinya hampir separuh dari angka awal.
"Fenomena fluktuasi ini mendorong tim UI merumuskan kembali strategi yang lebih presisi, adaptif, dan berorientasi jangka panjang agar kasus tidak kembali melonjak," kata Lisa.
Formulasi “Segitiga Intervensi Stunting” menjadi motor penggerak utama dalam aksi nyata di tahun kelima ini. Tiga pendekatan dikedepankan untuk merealisasikannya, terutama pendekatan kesehatan, ekonomi, dan komunitas.
Baca juga: FKG UI luluskan doktor baru "double degree" pertama
Pendekatan kesehatan dilakukan melalui skrining komprehensif ibu hamil dan balita oleh tim gabungan FKG, FK, dan FIK UI. Gangguan gigi dan mulut yang memengaruhi asupan nutrisi anak turut ditangani bersama dokter spesialis kandungan FK UI dan tim keperawatan keluarga FIK UI.
Sementara itu, pendekatan ekonomi diisi oleh FEB UI lewat lokakarya ketahanan pangan dan manajemen keuangan keluarga, agar orang tua mampu menjaga daya beli terhadap bahan pangan bergizi.
Sedangkan pendekatan komunitas dilakukan dengan melatih relawan lokal dari Kampung Ilmu dan kader kesehatan Puskesmas agar mampu melakukan pemantauan mandiri, sehingga deteksi dini stunting (tengkes) dan kesehatan gigi tetap berjalan berkelanjutan.
Aksi nyata pengabdian masyarakat ini digerakkan oleh 130 personel, yang terdiri dari mahasiswa jenjang S1, profesi, residen spesialis, dosen, dan dokter pendidik klinis FKG UI, serta diperkuat mahasiswa PPDS FK UI, dosen FIK UI, 9 personel Laboratorium Kedokteran Gigi (LADOKGI) R.E. Martadinata, serta 5 personel Ikatan Alumni (ILUNI) FKG UI.
Dampak langsung dari aksi nyata ini dirasakan oleh 1.403 penerima manfaat, mencakup siswa SDN 01 Cisarua (155 siswa, 12 guru), SDN 02 Cisarua (299 siswa, 15 guru), SDN 03 Cisarua (69 siswa, 8 guru), SMPN 03 Tegalwaru (287 siswa, 25 guru), serta ratusan siswa SMKN Tegalwaru, kelompok ibu hamil, tenaga kesehatan puskesmas, dan relawan lokal.
Universitas Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus melaksanakan pengabdian masyarakat sebagai pengejawantahan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa UI tidak hanya hadir sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai kampus yang aktif menjawab tantangan bangsa melalui inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.