Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat memperbanyak bank sampah di tingkat RT/RW sebagai upaya menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng sekaligus meningkatkan intensitas sistem pengelolaan langsung dari hulu.

"Bank sampah di hulu jadi fondasi utama mengurangi volume sampah sebelum masuk ke sistem pengolahan hilir seperti TPA Burangkeng maupun fasilitas PSEL," kata Kepala Tim Pengendalian dan Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi Nurul Fitria di Cikarang, Senin.

Dia mengatakan program bank sampah kini tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat pengumpulan sampah, melainkan fondasi utama pengurangan sampah dari masyarakat untuk mengurangi beban kapasitas TPA Burangkeng.

Penguatan bank sampah menjadi bagian dari panduan strategis penanganan sampah hulu-hilir Kabupaten Bekasi pada 2025-2029. Pada tahun pertama 80 unit dibentuk serta dibina, sedangkan tahun ini ditargetkan menambah 200 bank sampah baru.

"Kami aktif turun ke lapangan memberikan pembinaan manajemen, tata cara pemilahan sampah bernilai ekonomis hingga menanamkan semangat circular economy agar program ini mandiri dan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga," katanya.

Ia menyebut jumlah bank sampah di Kabupaten Bekasi saat ini 402 unit tersebar di lingkungan RW se-23 kecamatan. Sebagian unit tidak aktif sehingga pihaknya terus mendorong melalui pembinaan agar ke depan kembali aktif serta semakin masif.

Ia mengaku kontribusi bank sampah secara teknis mampu mereduksi 15-20 persen sampah rumah tangga langsung dari sumbernya sehingga turut menekan volume sampah yang diangkut ke TPA Burangkeng hingga puluhan ton per hari.

Sampah-sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dipilah dan disalurkan ke industri daur ulang maupun mitra pengolahan sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.

"Dengan menyaring jenis sampah bernilai ekonomi dan mengarahkannya langsung ke industri penyerapan seperti komoditas RDF dan kemitraan swasta, puluhan ton potensi sampah anorganik berhasil dicegah masuk ke TPA Burangkeng setiap harinya," ujarnya.

Keberadaan bank sampah juga dinilai berperan penting sebagai kunci efisien teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL.

Melalui pemilahan sampah dari sumber, bank sampah bisa membantu penyediaan bahan baku lebih berkualitas sekaligus meningkatkan efisiensi sistem pengolahan tersebut.

"Kontribusi terbesar bank sampah ke depan bukan hanya menurunkan tonase sampah tetapi juga mengamankan kualitas sampah. Dengan pemilahan yang baik di hulu, sampah residu yang masuk ke fasilitas pengolahan PSEL menjadi lebih homogen, kering dan siap olah," katanya.

Kontribusi bank sampah menjadi salah satu faktor penting menjaga keberlanjutan umur pakai TPA Burangkeng yang kini menghadapi keterbatasan kapasitas dan melalui beragam program ke depan diharapkan mampu mewujudkan Kabupaten Bekasi zero waste.

"Harapan terbesar tentu tercipta integrasi total, ketika masyarakat tertib memilah di hulu melalui bank sampah, maka fasilitas teknologi modern kita di hilir seperti PSEL dan pengolahan RDF dapat beroperasi dengan efisien dan maksimal karena menerima pasokan sampah berkualitas," kata dia.



Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026