Kuningan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Penkab) Kuningan, Jawa Barat, bersama IPB University menyiapkan hilirisasi teknologi pertanian berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendukung modernisasi sektor pertanian dan meningkatkan produktivitas petani.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah di Kuningan, Sabtu, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis, untuk mendorong transformasi menuju pertanian presisi yang lebih efisien dan berdaya saing.

Menurut dia, modernisasi pertanian menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda apabila sektor tersebut ingin tetap menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus penopang ketahanan pangan.

"Inovasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan peningkatan produktivitas dan efisiensi, tetapi juga menjadi solusi atas keterbatasan tenaga kerja pertanian serta tantangan regenerasi petani," katanya.

Wahyu menjelaskan salah satu teknologi yang disiapkan untuk diterapkan ialah AI-TRAC, sistem berbasis kecerdasan buatan yang memungkinkan traktor tangan konvensional dioperasikan melalui kendali jarak jauh maupun sistem otonom.

Teknologi tersebut, katanya, dirancang untuk meningkatkan efisiensi pengolahan lahan, mengurangi beban kerja operator, serta mendukung penerapan pertanian presisi di tingkat petani.

“Selain itu, terdapat teknologi ANTRAC yang dikembangkan untuk membantu petani mendeteksi dini penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai melalui sistem pengenalan citra berbasis AI,” katanya.

Ia menilai penerapan teknologi pertanian modern juga dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda, untuk kembali melirik sektor pertanian.

"Jika kita ingin generasi muda kembali tertarik ke sektor pertanian, maka pertanian harus tampil modern, berbasis inovasi, dan mampu memberikan nilai ekonomi yang menjanjikan," katanya.

Sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut, Pemkab Kuningan dan tim riset IPB menandatangani dokumen percepatan implementasi untuk mendukung adopsi teknologi pertanian cerdas di tingkat petani serta penyuluh pertanian.

Sementara itu, Ketua Tim Riset AI-TRAC dan ANTRAC IPB University Ridwan Siskandar mengatakan hilirisasi inovasi menjadi kunci agar hasil penelitian dapat memberikan manfaat langsung bagi petani.

Ia menyampaikan teknologi pertanian tidak boleh berhenti pada tahap penelitian, tetapi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi petani di lapangan.

"Teknologi harus hadir di tengah petani, menjawab persoalan nyata, dan menciptakan nilai tambah ekonomi. Untuk itu kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani sangat penting," ujar dia.

 



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026