Sukabumi (ANTARA) - Star Energy Geothermal Salak Ltd. (SEGS) mengenalkan tiga satwa kunci kawasan Gunung Salak kepada pelajar sekolah dasar sebagai upaya menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian keanekaragaman hayati sejak usia dini.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam Eco Kids Festival yang digelar di SDN Pasirwalang, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Safety Health & Environmental Engineer SEGS Shefira Herlindya Putri dalam keterangannya, Jumat, mengatakan para siswa dikenalkan dengan Elang Jawa, Owa Jawa, dan Macan Tutul Jawa yang menjadi indikator penting kesehatan ekosistem hutan di kawasan Gunung Salak.

“Anak-anak ternyata sangat antusias. Mereka banyak bertanya apakah satwa-satwa ini masih bisa ditemukan di Gunung Salak dan bagaimana cara menjaganya agar tidak punah,” kata Shefira.

Ia menjelaskan Elang Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa sekaligus predator puncak yang keberadaannya menandakan rantai makanan di hutan masih terjaga. Sementara Owa Jawa berperan membantu penyebaran biji-bijian untuk regenerasi alami hutan, sedangkan Macan Tutul Jawa menjaga keseimbangan populasi satwa lain di alam.

Selain mengenalkan satwa liar, SEGS juga mengajak siswa mempelajari berbagai jenis tumbuhan khas kawasan Gunung Salak seperti puspa, rasamala, saninten, pasang, kayu manis, huru, dan pakis.

Melalui kuis dan permainan edukatif, para siswa diperkenalkan pada fungsi penting vegetasi hutan dalam menjaga sumber air, kualitas tanah, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa.

Kegiatan juga diisi dengan edukasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan menggunakan pendekatan yang mudah dipahami anak-anak. Materi yang diberikan mencakup larangan membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah di area kering, hingga pentingnya melapor apabila menemukan tanda-tanda kebakaran.

“Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau perusahaan, tapi tanggung jawab kita bersama. Dan kepedulian itu bisa mulai dibangun sejak usia dini,” ujar Shefira.

Setelah sesi edukasi di kelas, siswa, guru, dan tim SEGS melakukan penanaman pohon kuncup merah di lingkungan sekolah sebagai bentuk praktik langsung pelestarian lingkungan.

Kepala SDN Pasirwalang Eti Mulyati menyambut baik kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa sekaligus memperkenalkan kekayaan hayati yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

“Anak-anak jadi lebih mengenal lingkungan di sekitar mereka sendiri. Mereka belajar sambil bermain, jadi lebih mudah dipahami,” katanya.

Melalui Eco Kids Festival, SEGS berharap kesadaran menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Salak.

 



Pewarta: M Fikri Setiawan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026