Kabupaten Bogor (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) menyatakan harga kebutuhan pokok di wilayahnya relatif terkendali pada pekan pertama Juni 2026 meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada pada level yang lemah.

Kepala Disdagin Kabupaten Bogor Mely Kamelia di Cibinong, Kamis, mengatakan tekanan terhadap harga pangan masih dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari pelemahan rupiah, kondisi cuaca, biaya distribusi hingga dinamika pasokan dari daerah sentra produksi.

"Secara umum kondisi harga kebutuhan pokok di Kabupaten Bogor pada minggu pertama Juni 2026 masih relatif terkendali meskipun terdapat tekanan pada komoditas hortikultura dan minyak goreng," kata Mely.

Menurut dia, nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS berdampak terhadap kenaikan biaya impor berbagai bahan baku pangan, seperti gandum, kedelai, gula mentah, hingga bahan baku pakan ternak.

Baca juga: Bupati Bogor puji Presiden Prabowo jaga BBM dan pangan tetap stabil di tengah konflik global

Kondisi tersebut terutama mempengaruhi komoditas yang masih bergantung pada bahan baku impor, termasuk produk berbasis terigu seperti mi instan, roti, biskuit dan berbagai makanan olahan.

Selain itu, harga Minyakita di Kabupaten Bogor masih tercatat sebesar Rp17.343 per liter atau berada di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Mely, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasokan minyak goreng relatif tersedia, namun faktor distribusi, pengemasan dan rantai pasok masih memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Sementara itu, harga daging ayam broiler pada pekan pertama Juni 2026 tercatat Rp38.373 per kilogram dan relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Stabilitas harga ayam didukung oleh pasokan yang masih terjaga di tingkat produsen.

Baca juga: Pemkab Bogor: Pasokan pangan aman meski harga sebagian naik

Di sisi lain, sejumlah komoditas hortikultura mengalami kenaikan harga. Bawang merah tercatat mencapai Rp44.659 per kilogram atau naik lebih dari 17 persen dibandingkan awal pemantauan pada April 2026. Harga cabai merah juga masih berada pada level Rp57.552 per kilogram.

"Kondisi cuaca dan pasokan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga beberapa komoditas hortikultura," ujarnya.

Mely menjelaskan Kabupaten Bogor sebagai daerah penyangga DKI Jakarta sangat dipengaruhi kelancaran distribusi pangan dari berbagai daerah sentra produksi di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Karena itu, kenaikan biaya logistik maupun transportasi antarwilayah dapat langsung berdampak terhadap harga jual di pasar tradisional maupun pasar modern.

Meski demikian, beberapa komoditas strategis masih menunjukkan stabilitas harga. Beras medium tercatat Rp12.907 per kilogram dan beras premium Rp14.607 per kilogram.

Baca juga: Polres Bogor dan Bulog gelar Gerakan Pangan Murah jelang Lebaran

Menurut Mely, stabilitas harga beras didukung produksi domestik yang cukup baik, ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta program stabilisasi pangan yang dijalankan pemerintah.

Untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan, Disdagin Kabupaten Bogor terus melakukan pemantauan harga di pasar, monitoring stok komoditas, pengawasan ke agen dan distributor, operasi pasar, bazar perdagangan, hingga pelaksanaan Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

"Ke depan stabilitas harga akan sangat dipengaruhi perkembangan nilai tukar rupiah, kondisi cuaca selama musim kemarau, kelancaran distribusi pangan antarwilayah, serta efektivitas intervensi pemerintah dalam menjaga pasokan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat," kata Mely.



Pewarta: M Fikri Setiawan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026