Teheran (ANTARA) - Iran pada Jumat mengatakan tercapainya kesepakatan final dengan Amerika Serikat bergantung pada kesediaan Washington menghentikan tuntutan yang berlebihan dan meninggalkan sikap yang dinilai bertentangan, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri mengutip Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

"Menjelaskan situasi seputar proses diplomatik yang dimediasi oleh Pakistan, Araghchi menekankan bahwa tercapainya kesepakatan akhir bergantung pada AS dengan mengakhiri tuntutan berlebihan dan meninggalkan posisi yang kontradiktif," demikian pernyataan kementerian.

Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah percakapan telepon Araghchi dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sejumlah isu utama terkait program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum terselesaikan.

Baca juga: Iran klaim tetapkan kendali permanen atas Selat Hormuz
Baca juga: AS dan Iran telah sepakat buka Selat Hormuz sepenuhnya dalam waktu 30 hari ke depan
Baca juga: Trump nyatakan AS bergerak cepat akhiri perang dengan Iran

Meski demikian, Trump menyebut Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan mengenai sejumlah isu lain yang dinilainya kurang penting.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Washington dan Teheran kemudian mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.

Perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas, sementara Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan untuk memberi waktu kepada Iran menyusun proposal perdamaian.

Namun, blokade terhadap Iran hingga kini masih berlangsung.

 

Sumber: Sputnik

 



Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026