Jakarta (ANTARA) - Baik Pep Guardiola maupun Oliver Glasner menyebut kelelahan sebagai alasan mereka berhenti menjadi pelatih Manchester City dan Crystal Palace.
Guardiola harus membagi waktu, energi, dan pikirannya untuk memimpin Manchester City dalam menjalani 593 pertandingan selama sepuluh tahun.
Sebanyak 423 dari total pertandingan itu dimenangkan oleh tim Guardiola atau tingkat kemenangan mencapai 71 persen.
Hasilnya, selama dipimpin Guardiola, Manchester City mendapatkan 20 trofi yang terdiri dari enam trofi juara Liga Premier, lima Piala Liga, tiga Piala FA, tiga trofi Community Shields, satu Liga Champions, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Klub.
Seperti ketika berhenti menjadi pelatih Barcelona pada 2012 setelah empat tahun menukangi klub Spanyol itu, Guardiola menyatakan akan rehat sebelum aktif lagi menjadi pelatih.
Walau tak mengakhiri karier emasnya di City dengan trofi Liga Premier dan Liga Champions, Guardiola tetap bisa mempersembahkan Piala FA dan Piala Liga kepada The Citizens.
Cerita hampir sama dengan takaran lebih rendah terjadi pada Oliver Glasner.
Glasner memimpin Crystal Palace selama 375 hari atau dua setengah musim untuk mempersembahkan tiga trofi, meliputi Piala FA, Community Shields, dan Liga Conference Europa.
Bagi tim yang tak pernah menjuarai liga utama, sukses Palace menjuarai Liga Conference adalah simbol untuk sukses besar era Glasner.
Pelatih asal Austria itu telah membawa perubahan besar pada Crystal Palace, walau peringkat akhir klub ini pada musim ini lebih rendah ketimbang dua musim sebelumnya.
Musim ini Palace finis pada urutan ke-15 setelah pada satu dan dua musim sebelumnya tuntas pada peringkat 12 dan 10.
Tahun lalu Glasner mempersembahkan Piala FA yang menjadi tiket masuk Liga Conference musim ini yang Kamis (28/5) dini hari, mereka juarai setelah mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 dalam final di Leipzig, Jerman.
Musim depan, walau finis di papan bawah, Palace akan tetap bermain dalam kompetisi Eropa pada tingkat lebih tinggi di Liga Europa, karena berstatus juara Liga Conference.
Imbuhan penting
Salah satu dari tiga pelatih yang promosi ke Liga Premier itu adalah Frank Lampard.
Lampard bakal menjadi cerita menarik setelah belum lama ini dinobatkan sebagai pelatih terbaik di Inggris, mengalahkan Mikel Arteta yang mengakhiri penantian 22 tahun Arsenal menjuarai Liga Premier.
Fakta Lampard mengalahkan Arteta menyiratkan ada hal istimewa pada diri Lampard, yang faktor itu pun sudah menjadi jaminan Liga Premier tetap menarik walau ditinggalkan Guardiola.
Sepak terjang Lampard sebagai pemain sudah dikenal luas oleh publik.
Dia adalah legenda Chelsea yang bersama 177 golnya dalam pertandingan liga membuatnya menjadi gelandang Liga Premier yang mencetak gol paling banyak sepanjang masa. Lampard juga pencetak gol terbanyak sepanjang masa Chelsea dengan 211 gol.
Karir kepelatihannya dimulai dari Derby County pada 2018, lalu Chelsea. Tapi dia tak cukup berhasil pada musim keduanya bersama Chelsea dan juga bersama Everton walau berhasil menghindarkan klub ini dari degradasi pada 2022.
Kini dia dinobatkan sebagai pelatih terbaik di Inggris, setelah mengantarkan Coventry City promosi ke Liga Premier.
Selama ditangani Lampard, Coventry memang tim yang mengerikan setelah menjadi tim yang paling sering menang, paling sedikit kalah, paling banyak mencetak gol, dan paling sedikit kebobolan.
Mereka finis di puncak klasemen dengan selisih 11 poin dari peringkat kedua Ipswich Town, ketika Arsenal finis dengan selisih 7 poin di atas Manchester City di Liga Premier.
Coventry, seperti klub-klub Liga Championship lain, memainkan delapan pertandingan liga lebih banyak ketimbang klub-klub Liga Premier.
Mungkin karena beban berat yang sudah dilewati dengan manis oleh Coventry, Lampard dianggap lebih baik ketimbang Arteta.
Sir Alex Ferguson saja memuji Lampard sebagai pelatih yang memiliki kepribadian dan kepemimpinan mumpuni sehingga Coventry konsisten bermain bagus dan percaya diri sepanjang musim ini.
Faktor seperti itu bisa membuat Lampard menjadi imbuhan penting bagi Liga Premier sehingga tetap sama menantangnya dengan era ketika Guardiola dan Glasner masih ada.
Tapi Lampard juga mungkin akan menghadapi tantangan yang melelahkan fisik, mental dan pikiran, seperti dirasakan Guardiola dan Glasner.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.