Depok (ANTARA) - Kedutaan Besar India di Jakarta, dipenuhi antusiasme puluhan mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Indonesia, melalui kegiatan bertajuk “Understanding India Through Culture, Cinema, and Diplomacy.”

Kegiatan yang dipimpin oleh Assoc. Professor Dr. Devie Rahmawati, CICS ini, menjadi bagian dari elaborasi pembelajaran pada mata kuliah produksi visual humas, serta teknik lobby dan negosiasi.

Sejak awal kegiatan, para Mahasiswa tidak hanya diterima sebagai tamu akademik, tetapi benar-benar diberi ruang untuk terlibat di dalam ekosistem kegiatan kedutaan.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika dua mahasiswa Humas angkatan 2025, Michelle dan Fatina, dipercaya langsung menjadi pembawa acara dalam agenda resmi Kedutaan India.

“Tidak semua institusi diplomatik membuka ruang sedekat ini kepada mahasiswa. Ketika mahasiswa kami dipercaya menjadi bagian dari jalannya acara resmi kedutaan, itu bukan hanya pengalaman akademik, tetapi bentuk penghormatan dan kepercayaan yang luar biasa,” ujar Devie, yang telah menghasilkan lebih dari 50 buku dan modul literasi ini.

“Kesempatan ini dihadirkan oleh Pak Kholil Azis dan tim, yang memperlakukan mahasiswa kami bak keluarga. Hal sederhana seperti keramahan, dan kehangatan, justru menjadi bentuk diplomasi yang paling membekas,” tambahnya.

Dalam sambutan pembukaannya, Deputy Chief of Mission Bijay Selvaraj menegaskan bahwa kedua negara dihubungkan oleh sejarah panjang pertukaran budaya, perdagangan, nilai, dan hubungan masyarakat yang terus berkembang hingga hari ini.

Hal serupa juga disampaikan Kamal Khurana yang menilai generasi muda memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan kedua negara di masa depan.

Mahasiswa kemudian diajak memasuki dunia soft power India melalui sesi “Visual Communication in Bollywood” bersama Sharad Sharan, salah satu pakar dan praktisi sinema yang telah lama berkontribusi dalam perkembangan perfilman Indonesia.

Dalam paparannya, Sharad menjelaskan bahwa kekuatan terbesar sinema India bukan sekadar teknologi atau skala produksi, melainkan kemampuan storytelling yang mampu membangun ikatan emosional lintas budaya dan generasi.

Sosok perfilman ini menunjukkan bagaimana Bollywood berkembang menjadi instrumen pengaruh budaya global yang bukan hanya menghibur, tetapi juga membentuk identitas, memperkuat ekonomi kreatif, hingga menciptakan koneksi emosional antarbangsa.

“Film yang kuat bukan hanya ditonton, tetapi juga membuat orang merasa memiliki cerita di dalamnya,” ujar Sharad dalam diskusi bersama mahasiswa.

Bagi mahasiswa humas dan produksi visual, sesi tersebut menjadi pembelajaran bahwa visual bukan hanya tentang estetika, melainkan tentang membangun makna, emosi, dan pengaruh sosial.

Suasana kemudian berubah lebih reflektif ketika Sunil Karamchandani membawakan sesi mengenai yoga dan Ayurveda.

Dalam pemaparannya, Dr. Sunil menjelaskan bahwa yoga dan Ayurveda merupakan filosofi hidup India yang menekankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, emosi, dan lingkungan.

“India mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan keseimbangan dirinya,” jelasnya.

Sementara itu, sesi mengenai hubungan politik dan diplomasi Indonesia & India dibawakan oleh Vikram Vardhan.


Dalam paparannya, Vikram menegaskan bahwa diplomasi modern tidak lagi cukup hanya mengandalkan kekuatan negara, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan, konsensus, dan hubungan antarmasyarakat.

Dalam materi penutupnya, Devie, praktisi komunikasi selama lebih dari 25 tahun ini, mengatakan bahwa India adalah salah satu contoh menarik di dunia tentang bagaimana budaya tidak ditinggalkan dalam modernitas, namun justru budaya dijadikan fondasi untuk membangun pengaruh di berbagai belahan dunia.

“India tidak hanya mengekspor produk, namun juga mengekspor makna, nilai, filosofi hidup, dan identitas” jelasnya.

Devie mencontohkan bagaimana Bollywood berkembang menjadi salah satu mesin soft power terbesar di dunia, sementara yoga dan Ayurveda telah diterima lintas negara sebagai bagian dari gaya hidup global modern.

“India menunjukkan kepada dunia bahwa budaya bukan penghambat kemajuan. Budaya justru dapat menjadi energi bagi inovasi, diplomasi, ekonomi kreatif, bahkan kepemimpinan. Dan itu adalah pelajaran besar yang sangat relevan bagi Indonesia hari ini,” tutupnya.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026