Jakarta (ANTARA) - Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemanenan gas metana dari tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat.
Peneliti BRIN Sri Wahyono mengatakan teknologi tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman lapangan serta kolaborasi dengan pengelola TPA di sejumlah daerah, salah satunya di Malang, Jawa Timur.
"Teknologi ini memanfaatkan peralatan sederhana, seperti pipa, suction blower, dan unit pemurnian gas. Gas metana yang terkumpul dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor maupun sumber energi untuk generator yang dimodifikasi agar dapat menghasilkan listrik dari gas metana TPA," katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Sri menyebut pengembangan teknologi diawali dengan studi lapangan untuk mengidentifikasi karakteristik timbunan sampah dan kandungan gas metana di lokasi TPA.
Baca juga: BRIN dokumentasikan 10 rekaman spesies anggrek baru di Indonesia
Baca juga: BRIN ingatkan pentingnya refleksi pembangunan lewat peluncuran buku
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak untuk memprediksi potensi gas sekaligus menentukan titik optimal pemasangan sumur gas.
Sri menjelaskan pemasangan sumur dilakukan secara horizontal maupun vertikal dengan jarak tertentu yang disesuaikan dengan kondisi timbunan sampah.
"Gas metana yang terkumpul dialirkan melalui jaringan pipa dan disedot menggunakan suction blower karena tekanan gas relatif rendah. Sebelum dimanfaatkan, gas terlebih dahulu dimurnikan untuk mengurangi kandungan air, karbon dioksida, dan hidrogen sulfida agar lebih aman digunakan," ujarnya.
Baca juga: BRIN siapkan 5 teknologi unggulan, lindungi Pantura dari ancaman banjir rob
Saat ini, gas metana hasil pemanenan dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan bakar memasak masyarakat sekitar maupun operasional internal pengelola TPA. Selain itu, gas tersebut juga dapat digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil, meski kestabilan pasokan masih menjadi tantangan.
Sri menjelaskan bahwa pengembangan teknologi pemanenan gas metana dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari identifikasi potensi gas, penentuan lokasi sumur, pemasangan instalasi, pengaliran gas menggunakan suction blower, hingga proses pemurnian sebelum dimanfaatkan sebagai sumber energi.
"Teknologi ini sebenarnya sederhana, tetapi telah terbukti dapat dimanfaatkan di beberapa TPA dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar," ucap Sri Wahyono.
Pewarta: Sean Filo MuhamadUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.