Sumedang (ANTARA) - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta masyarakat Kabupaten Sumedang untuk kembali melestarikan rumah berbahan bambu dan kayu, sebagai bagian dari identitas budaya Sunda sekaligus hunian yang selaras dengan alam.
“Rumah kayu itu sesuai dengan keinginan air, keinginan angin, dan keinginan tanah. Itu bagian dari budaya Sunda yang harus kita jaga,” katanya dalam keterangannya di Sumedang, Senin.
Ia menilai rumah tradisional berbahan bambu dan kayu memiliki banyak keunggulan dibanding bangunan beton, terutama di wilayah pedesaan dan perbukitan.
Baca juga: Kirab budaya Milangkala Tatar Sunda di Bogor
Selain lebih sejuk dan nyaman, rumah tersebut juga dinilai mampu beradaptasi dengan kondisi alam sekitar.
Menurut KDM, rumah berbahan alami mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sunda yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sifat material bambu dan kayu yang fleksibel dianggap sejalan dengan karakter lingkungan di daerah tersebut.
“Kalau rumah bambu terkena angin dia mengikuti, kalau tanah bergerak dia lebih lentur. Itu sebabnya rumah tradisional punya filosofi menyatu dengan alam,” ujarnya.
Baca juga: Kirab Mahkta Binokasih ajang sidak infrastruktur di rute yang dilalui, Jumat lusa digelar di Bogor
Ia menambahkan pembangunan rumah modern berbahan beton tidak selalu cocok diterapkan di seluruh wilayah, sehingga masyarakat desa diimbau tetap mempertahankan arsitektur lokal sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus keseimbangan lingkungan.
Adapun wilayah Situraja sebagai daerah percontohan disebut memiliki potensi besar untuk mempertahankan pola hunian berbasis kearifan lokal tersebut.
Oleh karena itu, Pemerintah daerah diharapkan dapat mendorong pembangunan yang tidak meninggalkan identitas budaya seperti rumah berbasis kayu dan bambu dengan gaya arsitektur Sunda.
Pewarta: Ilham NugrahaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.