Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Tim Pengendalian Penyakit Hewan dan Penjamin Kesehatan Hewan (P2HPKH) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyatakan sejauh ini telah memeriksa sedikitnya 19.000 hewan kurban sebagai langkah pengawasan peredaran hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini.

Tim yang beranggotakan 32 personel kesehatan dan para dokter hewan ini telah bertugas sejak beberapa pekan lalu untuk memeriksa hewan kurban di seluruh lokasi penjualan baik di tingkat peternakan maupun eceran.

"Pemeriksaan terus kami lakukan hingga H-1 Idul Adha. Nantinya tidak hanya di tingkat penjual, tapi juga bergeser ke masjid-masjid yang menyelenggarakan penyembelihan. Kami periksa kondisi kesehatannya," kata Ketua Tim P2HPKH Kabupaten Bekasi Dewi Suryani di Cikarang, Jumat.

Dia mengatakan 19.000 hewan kurban tersebut diperiksa dari total 227 titik penjualan. Jumlah lokasi tersebut dipastikan terus bertambah karena pemeriksaan masih terus dilakukan.

Ia menyebutkan dari belasan ribu ekor tersebut, mayoritas adalah sapi dengan jumlah mencapai lebih dari 9.000 ekor, kemudian 5.600 domba dan 4.000 kambing.

"Itu data laporan yang sudah masuk ya. Sedangkan data di lapangan yang sudah diperiksa saya pastikan lebih banyak, lebih dari 19.000 ekor, hanya saja laporannya memang yang belum masuk semua. Jadi data ini terus bergerak," katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, hampir seluruh hewan dalam kondisi sehat dan siap kurban. Namun diakui Dewi terdapat beberapa kasus penyakit yang diderita, antara lain penyakit mata.

"Penyakit mata kami temukan di Cikarang Barat, jadi ada iritasi, dimana matanya merah dan berair. Dari hasil pemeriksaan terindikasi karena perubahan cuaca, ada perbedaan cuaca dari lingkungan asalnya hingga ke sini. Misalkan asal Garut yang mungkin dingin, sedangkan di Bekasi panas. Itu berpengaruh," ucapnya.

Kemudian gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) juga ditemukan pada beberapa sapi. Meski tidak bisa digunakan untuk kurban, tapi masih layak dikonsumsi jika dimasak dengan benar.

"Yang PMK itu kami temukan gejalanya. Kami minta dipisahkan dengan hewan yang sehat. Namun PMK itu kan bukan penyakit yang menular ke manusia sebenarnya. Jika dimasak dengan benar, dagingnya aman untuk dikonsumsi. Namun untuk kurban belum bisa, karena kami minta untuk diobati dulu sampai sembuh," katanya.

Dewi mengimbau masyarakat membeli hewan kurban yang telah diperiksa kesehatan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat antara lain dari gerak hewan yang aktif, nafsu makan baik, mata cerah, hidung bersih, serta bulu tidak kusam.

Masyarakat turut diminta memperhatikan kondisi fisik hewan seperti tidak kurus, tidak cacat, tidak buta, serta memiliki kaki maupun tanduk yang normal.

"Pada kondisi ini masyarakat bisa melihat langsung dan memeriksa tanda-tandanya dengan bertanya ke penjual. Tidak apa-apa detail agar pasti kondisinya sehat," kata Dewi.



Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026