Depok (ANTARA) - Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), ASPIKOM, dan Trimegah Sekuritas menggelar kegiatan bertajuk “Literasi Fintech: Anak Muda Smart Financial User” di Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta Selatan.
Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Widodo Muktiyo dalam keterangannya, Jumat mengingatkan bahwa teknologi digital harus menjadi sarana membangun kualitas hidup.
“Jadilah influencer yang memberikan oksigen, yang sehat dan mencerdaskan. Gunakan teknologi dan literasi finansial untuk membangun peradaban finansial yang sehat dan cerdas,” ungkap beliau.
Rektor mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital secara positif dan bertanggung jawab, termasuk dalam memahami pengelolaan keuangan di era fintech. Rektor turut menegaskan bahwa generasi muda harus mampu menjadi pribadi yang membawa dampak baik melalui media digital.
Pembicara pertama, Engga Probi Endri, pengajar Universitas Mercubuana, menekankan literasi fintech bukan lagi sekadar kemampuan teknis memahami aplikasi keuangan, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap jebakan utang digital dan manipulasi psikologis platform digital.
“Pahami sebelum pakai. Literasi fintech bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk pertahanan diri terbaik terhadap jebakan utang dan penipuan,” tegasnya.
Anggota Japelidi ini juga menjelaskan bahwa banyak anak muda merasa “aman” menggunakan cicilan digital, karena terlihat kecil, padahal tanpa disadari akumulasi pengeluaran kecil tersebut dapat berkembang menjadi beban finansial besar.
Sementara itu, Devie Rahmawati dari Program Vokasi UI, mengutip berbagai hasil penelitian internasional yang menunjukkan bahwa rendahnya self-control, budaya materialisme, loneliness, hingga kebutuhan diterima lingkungan menjadi faktor penting yang mendorong impulsive buying dan hutang digital di kalangan anak muda.
Anggota Japelidi ini menambahkan bahwa generasi muda saat ini hidup di era ketika “hutang tidak lagi terasa menyakitkan”, karena teknologi digital telah menghilangkan “pain of paying” atau “rasa sakit” ketika mengeluarkan uang. Kalau dulu dompet kosong membuat orang berhenti belanja, hari ini notifikasi justru membuat orang lanjut checkout.
Banyak anak muda tidak sadar sedang masuk dalam “frictionless economy”, yaitu sistem ekonomi digital yang membuat proses berhutang terasa ringan, cepat, dan hampir tanpa hambatan psikologis,” imbuh peneliti tentang kecanduan digital ini.
Menurut pendiri klinik digital pada tahun 2018 tersebut, media sosial dan marketplace modern tidak lagi sekadar menjual barang, tetapi menjual emosi, pengakuan, dan rasa diterima.
“Kadang yang dibeli bukan barang. Yang dibeli adalah rasa dianggap. Algoritma digital bekerja mempelajari emosi pengguna, termasuk kapan seseorang sedang sedih, lelah, kesepian, atau merasa tertinggal dibanding lingkungan sosialnya. Hari ini algoritma tidak hanya tahu apa yang kalian suka. Algoritma mulai tahu kapan kalian sedang rapuh,” jelasnya di hadapan lebih dari 70 mahasiswa.
Devie mengajak mahasiswa memahami perbedaan antara kebutuhan dan validasi sosial melalui pendekatan sederhana namun reflektif.
“literasi finansial hari ini juga harus mengajarkan kemampuan mengendalikan impuls dan mengenali manipulasi psikologis di era digital. Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan tidak bisa mencari uang, tetapi terlalu cepat merasa punya uang. Belum lagi budaya ingin terlihat sukses di media sosial, sering kali membuat anak muda rela membeli barang di luar kemampuan finansialnya, termasuk barang tidak otentik, demi pengakuan sosial. Banyak orang hari ini terlihat kaya, tapi tidur ditemani cicilan,” ungkapnya.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.