Jakarta (ANTARA) - Sektor pertambangan batu bara didorong untuk menerapkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) secara menyeluruh melalui pengawasan ketat terhadap emisi operasional, rantai pasok, hingga dampak sosial bagi masyarakat sekitar tambang.
Ahli Life Cycle Expert Panel KESGI Jessica Hanafi dalam lokakarya media di Jakarta, Rabu, menyatakan dekarbonisasi di sektor ini harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup industri, mulai dari produksi, distribusi, hingga pemanfaatan energi di hilir.
Perusahaan memerlukan sistem pemantauan data yang kuat agar target pengurangan emisi dapat diukur secara kredibel dan tidak hanya terbatas pada emisi langsung.
Menurut Jessica, dimensi sosial seperti kesehatan pekerja dan masyarakat akibat paparan debu tambang juga harus menjadi prioritas dalam laporan keberlanjutan. Selain itu, agenda transisi energi perlu mengantisipasi dampak ekonomi agar wilayah pertambangan tidak menjadi kota mati saat industri berhenti beroperasi.
Direktur Eksekutif The PRAKARSA Victoria Fanggidae menilai tantangan utama saat ini adalah kesenjangan antara komitmen perusahaan dan realitas di lapangan.
Ia menekankan pentingnya peran masyarakat sipil dan jurnalis untuk memverifikasi klaim ESG melalui pemeriksaan data independen dan peninjauan langsung ke lokasi tambang guna memastikan mekanisme keluhan berjalan efektif.
Sejalan dengan itu, Program Manager for Climate & Circular Economy IBCSD Lusye Marthalia mengungkapkan kesiapan perusahaan dalam menerapkan ESG masih beragam. Perusahaan skala besar cenderung lebih patuh karena tuntutan pasar, sementara perusahaan kecil masih terkendala kapasitas internal dalam mengukur emisi serta menyusun strategi dekarbonisasi yang sistematis.
Lusye menambahkan bahwa dukungan manajemen puncak serta ketersediaan insentif pembiayaan sangat krusial agar ESG tidak sekadar menjadi pemenuhan regulasi, tetapi memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Investasi teknologi bersih, audit berkala, dan peningkatan kapasitas direksi menjadi bagian penting dalam mendukung transisi menuju industri rendah karbon.
Guna mendukung transparansi, diperkenalkan pula platform digital berupa dashboard KESGI sebagai alat analisis untuk memantau praktik ESG sektor batu bara secara sistematis.
Alat ini mengintegrasikan berbagai data laporan keberlanjutan yang selama ini tersebar dan memiliki standar berbeda menjadi visualisasi yang lebih mudah dipahami oleh publik.
Melalui standarisasi data tersebut, para pemangku kepentingan dapat membandingkan kinerja antarperusahaan serta menelusuri indikator spesifik seperti konsumsi energi dan tata kelola secara tahunan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat akuntabilitas industri pertambangan dalam mendukung target keberlanjutan nasional di tengah arus transisi energi global yang semakin kompetitif.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026