Depok (ANTARA) - Guru Besar Tetap dalam Bidang Rekayasa dan Inovasi Pengelolaan Air Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI) Prof. Firdaus Ali mengatakan perlu langkah preventif dan terpadu untuk menangani krisis air
Prof. Firdaus dalam keterangannya di Depok, Kamis, menyebut air sebagai fondasi utama peradaban sekaligus penanda batas kemampuan lingkungan.
Menurutnya, selama ini peradaban besar dunia tumbuh di wilayah yang mampu mengelola air dengan baik, namun kemampuan itu kini menghadapi tekanan berat akibat krisis iklim dan pertumbuhan populasi global yang terus meningkat.
“Meskipun 71 persen permukaan bumi tertutup air, hanya kurang dari Satu persen yang dapat diakses langsung sebagai air tawar untuk kebutuhan manusia. Jumlah ini tidak bertambah sejak awal peradaban, sementara populasi dunia telah mencapai hampir 8,3 miliar jiwa,” ujarnya.
Baca juga: Guru besar UI soroti perlunya beralih ke pelumas berbasis minyak nabati
Dalam perspektif batas daya dukung planet (planetary boundaries), lanjutnyam kondisi ini menempatkan air sebagai indikator kritis keberlanjutan sistem kehidupan, dimana sejumlah wilayah bahkan telah melampaui ambang batas aman pemanfaatannya. Tekanan terhadap sumber daya air semakin meningkat seiring laju urbanisasi.
Saat ini lebih dari 55 persen penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan dan angka tersebut diproyeksikan meningkat hingga 68 persen pada 2050.
Di Indonesia, kata dia, konsumsi air rumah tangga di kawasan perkotaan telah mencapai 140–180 liter per orang per hari, melampaui kebutuhan dasar. Secara global, lebih dari 2 miliar orang hidup di wilayah rawan air, dan sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air parah setidaknya satu bulan setiap tahun.
Tak hanya itu, urbanisasi juga berdampak pada rusaknya sistem hidrologi alami. Alih fungsi lahan mengurangi daya resap tanah dan meningkatkan limpasan air permukaan, yang berujung pada meningkatnya frekuensi banjir.
Baca juga: Guru Besar FTUI dorong desain jalan berbasis batas kemampuan manusia
Kondisi ini, kata dia, diperburuk oleh tingginya ketergantungan terhadap air tanah, khususnya di kawasan perkotaan. Eksploitasi berlebihan memicu penurunan muka tanah, meningkatkan risiko banjir, serta mempercepat intrusi air laut di wilayah pesisir. Krisis iklim turut memperparah tekanan tersebut.
Perubahan pola curah hujan, meningkatnya intensitas hujan ekstrem, serta periode kekeringan yang lebih panjang, membuat bencana air semakin sering dan destruktif.
Lebih dari 80 persen bencana alam global berkaitan dengan air, dan kawasan Asia menanggung beban terbesar. Rangkaian banjir besar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi menjadi tantangan utama peradaban modern.
Dalam menghadapi kompleksitas ini, Prof. Firdaus menilai pendekatan parsial tidak lagi memadai. Dibutuhkan strategi ketahanan wilayah yang terintegrasi, mencakup aspek ekologis, sosial, ekonomi, tata kelola, serta penegakan hukum.
Baca juga: Guru Besar FTUI padukan sains dan keimanan dengan konsep "DAI5 CFD"
Infrastruktur skala besar seperti pembangunan tanggul laut menjadi salah satu opsi penting, khususnya bagi kota pesisir, namun harus diiringi pengelolaan hulu-hilir yang terpadu.
Di sisi lain, kata dia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuka peluang baru dalam pengelolaan air, termasuk melalui pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan akurasi prediksi bencana.
Meski demikian ia menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa tata kelola yang kuat dan konsisten.
“Pendekatan preventif menjadi kunci utama. Berbagai studi menunjukkan investasi sekitar satu persen dari nilai ekonomi wilayah untuk pencegahan dapat menekan kerugian akibat bencana secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa ketahanan air bukan sekadar isu teknis, melainkan investasi strategis bagi keberlanjutan pembangunan,” kata Prof. Firdaus.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026