Depok (ANTARA) - Di tengah meningkatnya tekanan krisis iklim dan ketahanan pangan global, sebuah pendekatan sederhana namun radikal kembali diperkenalkan: memulai dari yang paling dekat yaitu dari tanah yang kita pijak, bahkan dari satu meter persegi.

Gagasan ini menjadi inti dari diskusi “Regenerative Dialogue Series Vol.2: From One Straw Revolution to One Square Meter of Resilience”, yang diinisiasi oleh Asia Regenerative Academy (ARA) bersama Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) dan Klinik Digital.

Berbeda dengan forum ilmiah pada umumnya, kegiatan ini mengusung pendekatan Collaborative Learning, sebuah ruang belajar tanpa hierarki, tanpa satu figur sebagai dosen atau mentor, di mana setiap peserta adalah pembelajar sekaligus kontributor.

Evan Nurrahmawan: Regenerasi Dimulai dari Ekosistem, Bukan Sekadar Produksi

Sebagai narasumber utama, Evan Nurrahmawan menekankan bahwa tantangan sistem pangan hari ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama yang hanya berfokus pada produktivitas.

“Pendekatan regeneratif bukan sekadar mengganti teknik bertani, tetapi mengubah cara kita melihat ekosistem. Kita tidak lagi bicara tentang memaksimalkan hasil, tetapi memulihkan keseimbangan.”

Evan menjelaskan bahwa praktik seperti agroforestri dan penggunaan cover crop mampu memperkaya ekosistem sekaligus mengurangi ketergantungan pada input kimia.

“Dalam praktik yang kami lakukan, tanah yang awalnya tergantung pada pupuk kimia bisa bertransformasi menjadi sistem yang mandiri. Kompos diproduksi sendiri, keberagaman tanaman meningkat, dan ekosistem menjadi lebih stabil.” 
Evan juga menegaskan bahwa keberhasilan sistem ini tidak lepas dari pemahaman jangka panjang.

“Kalau kita bicara sustainability, kita tidak bisa berpikir tiga sampai lima tahun. Kita harus bicara puluhan tahun. Sistem yang sehat itu dibangun perlahan, tapi dampaknya jauh lebih tahan lama.” 

Novi Kresna Murti: Kearifan Lokal dan Pembelajaran Kontekstual adalah Kunci

Melengkapi perspektif tersebut, Novi Kresna Murti Founder dari ARA, menyoroti pentingnya untuk kembali kepada praktik yang sebenarnya telah lama hidup dalam masyarakat.

“Kalau kita masih mengandalkan monokultur, kita tidak akan pernah benar-benar mencapai keseimbangan. Sistem tumpang sari justru mencerminkan bagaimana alam bekerja.” 

Menurutnya, banyak praktik regeneratif bukanlah konsep baru, melainkan bagian dari kearifan lokal yang sering terabaikan.

“Di berbagai tempat, kita sudah punya praktik yang serupa dengan konsep regeneratif, seperti ladang berpindah atau agroforestri. Tantangannya adalah bagaimana kita memahami ulang dan mengelolanya secara bertanggung jawab.” 

Novi juga menekankan bahwa pembelajaran harus dimulai dari konteks paling dekat.

“Banyak orang merasa tidak punya akses. Padahal sering kali, di halaman rumah sendiri sudah ada potensi pangan. Kita hanya belum menyadarinya.” 

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Collaborative Learning, di mana pengalaman personal menjadi bagian penting dari proses belajar.

Devie Rahmawati: Ketahanan Dimulai dari Koneksi, Bukan Sekadar Pengetahuan

Menutup sesi, Devie Rahmawati yang mewakili DRRC UI dan Klinik Digital menegaskan bahwa isu ketahanan pangan dan perubahan iklim tidak bisa dilepaskan dari cara manusia memahami dan meresponsnya.

“Kita tidak kekurangan pengetahuan tentang sustainability. Yang kita hadapi adalah jarak antara mengetahui dan melakukan. Di situlah pentingnya pendekatan yang tidak hanya informatif, tetapi juga membangun koneksi yang nyata dengan kehidupan sehari-hari.”

Pengajar Vokasi UI ini mengaitkan pendekatan ini dengan prinsip yang selama ini dijalankan oleh DRRC UI dan Klinik Digital.

“Di DRRC UI, kami melihat ketangguhan tidak dibangun saat krisis datang, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Sementara di Klinik Digital, kami melihat bahwa di tengah banjir informasi, masyarakat justru membutuhkan pengalaman yang sederhana dan bermakna agar bisa benar-benar bergerak.”

Menurut Devie yang juga peneliti komunikasi, pendekatan seperti Collaborative Learning menjadi penting dalam menjembatani kesenjangan tersebut.

“Ketika pembelajaran tidak lagi satu arah, tetapi menjadi ruang bersama, maka pengetahuan berubah menjadi pengalaman. Dan dari pengalaman itulah lahir aksi.”

ARA: Membangun Ruang Belajar Tanpa Hierarki

Melalui inisiatif ini, Asia Regenerative Academy (ARA) memperkenalkan model pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kompleksitas isu global.

Dengan menghapus batas antara pengajar dan peserta, ARA menciptakan ruang di mana:

* pengetahuan bersifat kolektif
* pengalaman menjadi sumber belajar
* dan refleksi menjadi bagian dari proses perubahan

Bersama DRRC UI dan Klinik Digital, Pendekatan ARA ini menegaskan bahwa solusi terhadap isu besar seperti climate change dan ketahanan pangan tidak bisa datang dari satu arah, tetapi dari kolaborasi lintas perspektif.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026