Depok (ANTARA) - Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) bersama Ikatan Alumni FIB UI (ILUNI FIB UI) menyelenggarakan Seri Kuliah Umum Alumni FIB UI (KUALI #2) bertajuk “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental Mahasiswa dalam Perspektif Humaniora di Era Modern.”
Forum ini menghadirkan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, sebagai ketua Health Collaborative Cengter dan inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, dan Ketua ILUNI FIB Visna Vulovik dengan moderator Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo.
Acara ini menegaskan bahwa isu kesehatan mental mahasiswa tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan individual, tetapi merupakan isu strategis pendidikan tinggi yang menyangkut kualitas pembelajaran, ketahanan generasi muda, serta masa depan bangsa.
Dalam pemaparannya, Dr. Ray Wagiu Basrowi menegaskan bahwa banyak gangguan psikologis pada mahasiswa sering datang tanpa tanda dramatis, melainkan hadir melalui perubahan narasi sehari-hari.
“Bahasa adalah biomarker psikologis. Kalimat seperti ‘capek’, ‘udah lah’, ‘terserah’, atau ‘nggak tahu mau ngapain lagi’ sering dianggap biasa, padahal pada konteks tertentu bisa menjadi sinyal distress mental yang nyata.
Kampus harus belajar mendengar, bukan hanya menilai.” Dr Ray juga menjelaskan bahwa kesehatan mental mahasiswa berkaitan erat dengan tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, tekanan sosial media, serta budaya menahan beban sendirian.
“Mahasiswa hari ini sering dituntut tampil baik-baik saja. Padahal banyak yang sedang bertahan, bukan berkembang”, ujar dr Ray yang sering memberi edukasi kesehatan jiwa di akun instagram @ray.w.basrowi ini.
Sementara itu, Dekan FIB UI Dr Untung Yuwono dalam sambutannya menekankan bahwa fakultas humaniora memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk membaca persoalan mental health secara lebih utuh.m“Humaniora mengajarkan kita memahami manusia secara mendalam—bahasa, emosi, identitas, budaya, dan relasi sosial. Karena itu, kampus humaniora harus menjadi pelopor ruang belajar yang sehat secara mental, aman secara emosional, dan kuat secara intelektual.
Menurutnya, universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia yang resilien, berempati, dan mampu hidup sehat secara psikologis.
Ketua ILUNI FIB UI juga menyampaikan bahwa alumni memiliki tanggung jawab untuk kembali hadir bagi kampus dan generasi setelahnya.
Visna Vulovik menegaskan, “Alumni tidak boleh hanya bernostalgia. Alumni harus menjadi jembatan pengalaman, inspirasi, dan dukungan nyata bagi mahasiswa yang sedang menghadapi tantangan zaman.
Visna menambahkan bahwa kesehatan mental mahasiswa perlu menjadi agenda bersama antara kampus, alumni, keluarga, dan masyarakat.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem kampus yang lebih peka terhadap kesehatan mental, memperkuat literasi psikologis, serta menormalisasi pencarian bantuan profesional secara bermartabat.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.