Jakarta (ANTARA) - Columbia Asia Hospital Pulomas memperkuat layanan ortopedi melalui Pusat Unggulan Ortopedi (Orthopaedic Center of Excellence) yang dirancang untuk menangani berbagai kondisi, mulai dari cidera olahraga hingga gangguan sendi kompleks.
Hospital CEO Columbia Asia Hospital Pulomas Gabrielly Zwitveysie Allow dalam keterangannya, Senin mengatakan pusat layanan ini didukung tim dokter spesialis ortopedi dan subspesialis berpengalaman dengan berbagai keahlian, mencakup cidera olahraga, rekonstruksi ligamen, penggantian sendi (total knee replacement/TKR dan total hip replacement/THR), hingga penanganan trauma kompleks.
Pendekatan multidisiplin ini memungkinkan pasien mendapatkan penanganan tepat sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Selain itu, jelas dia, Columbia Asia Hospital Pulomas menyediakan pilihan terapi lengkap, mulai dari penanganan non-operatif seperti injeksi dan fisioterapi, hingga tindakan bedah modern seperti arthroscopy minimal invasif, penggantian sendi total, dan rekonstruksi tulang.
Seluruh layanan dirancang untuk membantu pasien pulih lebih cepat dan kembali menjalani aktivitas secara optimal.
“Kesehatan tulang dan sendi berperan penting dalam kualitas hidup di tengah gaya hidup urban yang aktif. Kami berkomitmen menghadirkan layanan ortopedi yang didukung tim berpengalaman dan fasilitas modern sehingga pasien dapat kembali bergerak bebas dan menjalani aktivitas tanpa hambatan,” papar Gabrielly.
Menurut dr Ivan Mucharry Dalitan Sp OT Subsp P L (K), Dokter Spesialis Ortopedi Columbia Asia Hospital Pulomas, penanganan ortopedi yang optimal tidak hanya berfokus pada tindakan medis, tetapi juga pada proses pemulihan pasien secara menyeluruh.
“Dengan penanganan yang tepat sejak awal, peluang pasien untuk kembali beraktivitas secara aman dan berkualitas jauh lebih besar,” jelasnya.
Ia menambahkan dengan penguatan layanan ortopedi ini, Columbia Asia Hospital Pulomas berkomitmen jadi mitra kesehatan masyarakat Jakarta dalam menjaga fungsi gerak dan kualitas hidup sekaligus mendukung gaya hidup aktif di tengah dinamika perkotaan.
Berdasarkan data World Health Organization, gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu penyebab utama disabilitas di dunia, dengan lebih dari 1,7 miliar orang terdampak secara global.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat penyakit sendi termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular yang banyak dialami masyarakat, terutama pada kelompok usia produktif hingga lanjut usia.
Di tingkat regional, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan keluhan nyeri otot dan sendi, termasuk low back pain dan gangguan lutut, jadi salah satu alasan kunjungan yang cukup tinggi di fasilitas pelayanan kesehatan primer, khususnya pada kelompok pekerja aktif di perkotaan.
Selain berdampak pada kesehatan individu, gangguan muskuloskeletal juga memiliki implikasi ekonomi. Menurut berbagai studi kesehatan global, kondisi ini berkontribusi pada penurunan produktivitas kerja akibat keterbatasan aktivitas dan absensi, terutama pada populasi usia produktif di wilayah urban dengan mobilitas tinggi seperti Jakarta.
Tren olahraga seperti lari, pilates, dan padel kini jadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.
Namun, peningkatan aktivitas fisik ini juga berbanding lurus dengan risiko cidera, seperti cidera ligamen lutut (ACL dan PCL), dislokasi bahu, hingga cidera pergelangan kaki. Di sisi lain, pekerja kantoran rentan mengalami nyeri punggung bawah dan kekakuan sendi akibat posisi duduk yang berkepanjangan.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.