Bogor (ANTARA) - Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia bersama Universitas Syiah Kuala (USK) membahas penerapan ekolabel untuk mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan di Aceh melalui kegiatan kuliah tamu dan pelatihan di Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) USK.
Direktur Program MSC Indonesia Hirmen Syofyanto dalam keterangannya yang diterima di Bogor, Jawa Barat, Rabu, menjelaskan dirinya hadir langsung sebagai narasumber bersama Fishery Manager Indonesia & Southeast Asia Anthony Alvin dalam kegiatan bertajuk “Pendekatan Ekolabel dalam Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan di Indonesia dan Global” di Aula FKP USK, Kota Banda Aceh.
Kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, sehingga menjangkau peserta yang lebih luas.
Baca juga: Indonesia jadi contoh kuat pengelolaan perikanan berkelanjutan di forum FAO di Islandia
Hirmen mengatakan Aceh memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar sehingga perlu didukung dengan pemahaman yang kuat mengenai praktik perikanan berkelanjutan sejak di lingkungan kampus.
“Aceh memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar, kolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala merupakan bagian dari upaya kami untuk memperkuat pemahaman mengenai praktik perikanan berkelanjutan sejak di bangku kuliah,” kata Hirmen.
Ia menambahkan mahasiswa memiliki peran penting sebagai aktor perubahan dalam mendorong transformasi sektor perikanan di Indonesia agar lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Dalam workshop tersebut, MSC menyoroti pendekatan ekolabel sebagai instrumen untuk memastikan keberlanjutan sumber daya laut, sekaligus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok perikanan global.
Baca juga: MSC: Bakamla tak miliki legalitas penyidikan pandangan yang kaku
Materi yang disampaikan mencakup prinsip utama standar MSC, dinamika pasar global produk perikanan berkelanjutan, hingga peluang dan tantangan implementasinya di Indonesia.
Standar MSC sendiri menekankan tiga prinsip utama, yakni keberlanjutan stok ikan, perlindungan terhadap ekosistem laut, serta efektivitas tata kelola perikanan agar praktik penangkapan ikan dilakukan secara bertanggung jawab.
Wakil Dekan FKP Universitas Syiah Kuala Nur Fadli mengatakan kolaborasi dengan MSC sejalan dengan komitmen kampus dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 14 tentang pelestarian sumber daya laut.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami konsep perikanan berkelanjutan, tetapi juga mampu berkontribusi nyata dalam menjaga ekosistem laut, khususnya di wilayah Aceh,” ujar Nur Fadli.
Baca juga: MSC sebut perubahan iklim tingkatkan risiko konflik pengelolaan tuna
Diskusi interaktif yang berlangsung selama workshop menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta dalam memahami implementasi ekolabel serta relevansinya terhadap konteks lokal di Aceh.
MSC sendiri telah menjalankan program di Indonesia sejak 2019 melalui berbagai inisiatif, mulai dari pendampingan Fisheries Improvement Program, penguatan kapasitas pemangku kepentingan, hingga pengembangan pasar dalam negeri guna mendorong praktik perikanan yang lebih berkelanjutan.
Pewarta: M Fikri SetiawanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026