Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Divisj Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri memeriksa oknum anggota polisi berinisial YS atas dugaan keterlibatannya dalam praktik rangkap usaha sebagai broker proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi.
"Bongkar permainan-permainan proyek yang diperantarai oleh YS ini. Propam Polri harus periksa dan memproses dugaan pelanggaran ke sidang kode etik. KPK juga harus dalami dugaan korupsinya karena ini sudah terbuka," kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso dihubungi dari Cikarang, Senin.
Nama YS mencuat usai menjadi saksi pada persidangan perkara dugaan tindak pidana korupsi ijon proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi yang digelar Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung, Rabu (8/4).
YS alias "Lippo" saat ditanya Jaksa KPK pada persidangan tersebut mengaku sebagai anggota aktif Polri.
YS juga membenarkan memperoleh keuntungan dari proyek-proyek yang dikerjakan tersangka Sarjan. Total fee yang diterima berdasarkan perhitungan penyidik mencapai sekitar Rp16 miliar.
Sugeng menyatakan YS turut diduga melanggar hukum sebagai anggota kepolisian dan dapat dijerat dengan dugaan tindak pidana gratifikasi serta tindak pidana pencucian uang (TPPU) jika terbukti menerima keuntungan ilegal.
Kasus yang menyeret YS juga dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk mengungkap dugaan jaringan yang lebih luas sehingga aparat penegak hukum diminta untuk mengusut tuntas aliran dana serta pihak-pihak yang diduga terlibat.
"Perlu ditelusuri ke mana saja aliran dana itu, termasuk kemungkinan setoran kepada pihak lain.," jelasnya.
Menurut Sugeng, transparansi dalam penanganan kasus ini penting guna menjaga kepercayaan publik. "YS saya harap juga mau terbuka sehingga bisa ditelusuri,," imbuhnya.
Sugeng mengaku sudah mendengar nama YS sebagai pemain proyek di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bekasi.
Namanya disebut-sebut sebagai sosok yang diduga berperan mengamankan dan memberikan perlindungan sekaligus menjadi perantara sejumlah proyek pemerintah daerah.
Ia mengungkapkan fenomena aparat penegak hukum terlibat sebagai perantara proyek bukanlah hal baru. Praktik ini kerap terjadi di berbagai daerah dan menjadi isu yang terus berulang.
Aparat penegak hukum dianggap memiliki posisi strategis karena kewenangannya menegakkan hukum, termasuk penanganan kasus korupsi pengadaan.
"Karena aparat penegak hukum ini memang ditakuti baik oleh kepala dinas, pejabat pembuat komitmen dan para kontraktor yang mendapatkan proyek. Kalau mereka tidak menjalin hubungan baik, dalam arti tidak juga memberikan sesuatu apabila proyeknya ada temuan, bisa berujung pada kasus pidana, jadi ada pengamanan," ucapnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: IPW desak Propam Polri periksa anggota polisi merangkap broker proyek
Pewarta: Pradita Kurniawan SyahEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.