Jakarta (ANTARA) - Tokoh adat di Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah, kompak menolak segala bentuk gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) dan menegaskan komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sikap tersebut disampaikan oleh Raja Negeri Ouw Willem Pelupessy bersama Kepala Soa Negeri Tuhaha Cornelius Lohannapessy dalam pernyataan terpisah yang menekankan pentingnya persatuan dan stabilitas di tengah masyarakat.
Willem Pelupessy menyatakan bahwa masyarakat Negeri Ouw secara tegas menolak segala bentuk upaya yang mengarah pada gerakan separatis yang bertentangan dengan kedaulatan NKRI.
Ia menegaskan bahwa komitmen menjaga persatuan dan kesatuan bangsa merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, khususnya di wilayah Saparua Timur.
“NKRI harga mati!” tegas Willem dalam pernyataannya.
Selain itu, Willem juga mengimbau masyarakat untuk menahan diri dari segala bentuk gesekan, baik antar-individu maupun antar-negeri, demi menjaga kemaslahatan dan kedamaian bersama.
Sementara itu, Kepala Soa Negeri Tuhaha Cornelius Lohannapessy menegaskan bahwa masyarakat Tuhaha menolak kehadiran maupun aktivitas kelompok RMS di wilayahnya.
Cornelius juga mengecam segala bentuk tindakan kekerasan dan pertikaian yang berpotensi memecah belah hubungan antarwarga di wilayah tersebut.
“Saya menghimbau kepada masyarakat Saparua Timur, khususnya Negeri Tuhaha, untuk meninggalkan hal-hal negatif. Mari kita bergandengan tangan dan tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menjaga kedaulatan negara dan memperkuat persatuan menjadi prioritas utama masyarakat adat di wilayah tersebut.
Pernyataan dua tokoh adat tersebut mencerminkan soliditas masyarakat di Saparua Timur dalam menjaga kondusivitas wilayah serta menolak segala bentuk gerakan yang dapat mengganggu keutuhan NKRI.
Pewarta: M Fikri SetiawanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026